Tanda Orang Yang Sukses

Ketika membaca surah Ali Imran ayat 185 dan terjemahannya, ada beberapa hal muncul di benak untuk kita jadikan sebagai bahan renungan. Allah berfirman yang artinya:

Inilah Rahasia Di Balik Berteman Dengan Orang Buruk

Islam mengatur kehidupan umat manusia dengan sangat baik. Islam memberikan petunjuk secara paripurna dengan cara yang sangat sempurna. Islam mengatur seluruh persoalan, pun yang dianggap tidak penting bagi pandangan hidup orang kekinian.

Ketika Inggris Mengidolakan Dunia Islam

Tanpa orang-orang Islam, mungkin tak akan ada gula dan Shakespeare di Inggris. Jerry Brotton dalam The Sultan and the Queen melacak pengaruh Islam terhadap budaya Inggris selama setengah millennium (500 tahun), antara masa Perang Salib hingga kebangkitan Kerajaan Inggris di Timur Tengah.

Etika Dalam Menasehati Orang Lain

Nasihat memiliki tempat yang penting dalam agama Islam. Memberi nasihat dapat memantapkan persaudaraan di antara umat Islam. Terlebih, bila nasihat yang disampaikan seorang Muslim semata-mata hanya karena Allah dan muncul sebagai wujud kasih sayang terhadap saudaranya.

Mengapa Yahudi Begitu Takut Pada kaum Wanita ?

Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya.

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2017

Dan Pada Akhirnya Kitapun Akan Mati, Apa Yang Perlu Kita Sombongkan ?



Kita tahu, kita yakin dengan pasti dan tak ada ragu, bahwa pada akhirnya kita akan mati. Pada akhirnya tubuh ini akan terbaring kaku, terkubur dalam gemburan-gemburan tanah, tak kuasa menahan cacing-cacing tanah yang mencabik-cabik dan menyantap tubuh, bahkan untuk sekedar mengatakan, “Hush… Menjauh!!” Kita tak sanggup. 

Jika dahulu orang-orang sekitar kita selalu membersamai kita dengan cinta, maka akan ada waktunya mereka kan membersamai kita dengan cinta yang bercampur duka, menangis karena kepergian kita yang tak mungkin kembali. Jika dahulu kita sering mendengar pengumuman nama orang-orang yang meninggal dunia, atau menghadiri undangan duka, maka akan ada saatnya kita tak mendengar itu lagi dan tak menerima undangan duka lagi, karena orang-orang mengumumkan nama kita bahwa kita telah meninggal dunia. Sahabat, Pahami arti kehidupan, untuk tujuan apa kita diciptakan. 

Semua sesuai kehendakmu. Jibril berkata: Wahai Muhammad Hiduplah sesuka hatimu, engkau pasti mati. Cintailah orang sekehendak hatimu, engkau pasti akan berpisah dengannya. Berbuatlah sekehendak hatimu, kau akan mendapat balasan darinya.

sumber : wahdah.or.id

Renungan Untuk Orang Yang Sering Tertinggal Sholat Subuh



Cobalah sesaat kita berkaca pada diri sendiri. Berapa usia kita? Bagaimana Subuh dan shalat kita yang lainnya? Adakah malu saat tak bisa berjamaah di masjid? Ataukah kita senantiasa bersengaja meninggalkan jamaah karena satu dan lain alasan yang diada-adakan?
Ataukah kita terbiasa kesiangan hingga shalat Subuh sesaat sebelum matahari terbit? 
Dikisahkan Badiuzzaman Said Nursi yang merupakan salah satu ulama kebanggaan kaum Muslimin. Sejak usia belia, Said memiliki kualitas ruhani dan pikiran yang cemerlang hingga melampaui pencapain para ulama lain di masanya. Said melalang buana, memuaskan dahaga intelektualitas dan pencarian spiritualnya dengan berguru kepada banyak orang alim.
Dalam perjalanan panjang sang Said, ada satu episode yang dijadikan celah oleh orang yang berpenyakit hatinya untuk menyerang sufi Said.
Lantaran sibuk berguru, berdakwah, dan menyelesaikan berbagai persoalan umat, sufi Said Nursi kelelahan, setelah malamnya juga sibuk beribadah. Lelahnya itu berdampak sampai menjelang Subuh hingga sang sufi tertinggal dari shalat Subuh berjamaah di masjid.
Bukan kesiangan atau shalat Subuh di luar waktu, Said Nursi hanya tertinggal berjamaah di masjid dekat rumahnya. Ia tetap shalat tepat waktu, di rumahnya.
Oleh mereka yang sakit hati dan iri lantaran kecerdasan Said di berbagai bidang keilmuan, tidak berjamaahnya Said dijadikan sebagai senjata mematikan untuk melakukan serangan. Disebarkanlah berbagai desas-desus hingga fitnah kepada Said.
Hingga berhari-hari setelahnya, dalam masa yang lama.
Para murid Said Nursi sempat terpancing dan hendak melampiaskan kemarahannya. Namun, sang sufi berhasil mendinginkan amarah para muridnya hingga persatuan di antara kaum Muslimin senantiasa terjaga di masa itu.
“Yang salah adalah diriku. Aku telah mendapatkan dua hukuman sekaligus. Satu, teguran dari Allah. Dua, celaan dari manusia.” ujar sufi Nursi kepada murid-muridnya.
Terkait sebab ketertinggalannya dari Subuh berjamaah di masjid, sufi Said Nursi melanjutkan, “Aku tertinggal Subuh berjamaah karena meninggalkan wirid malam yang sudah menjadi kebiasaanku.”
Seperti inilah akhlak orang-orang shalih yang dekat dengan Allah Ta’ala. Kesalahan yang kita anggap kecil bahkan biasa adalah aib sangat besar dalam sejarah kehidupan mereka. Hal itu pun bisa dijadikan pelajaran sangat berharga hingga hikmahnya melintasi zaman, menembus sekat-sekat waktu ratusan tahun sepeninggalnya.
sumber : kisahikmah.com

Muslim Model Apa Jika Dengar Suara Adzan Tidak ke Masjid

Dengar Adzan Tidak ke Masjid, Muslim Model Apa?


Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta Alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –SAW-, keluarga dan para sahabatnya.

Islam model apa, mendengar adzan tapi tidak mendatanginya? Islam model apa, orang-orang yang tidak suka memakmurkan rumah Allah Ta’ala?
Para sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menganggap orang yang gemar meninggalkan shalat berjamaah sebagai munafik.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu berkata,
ولقد رأيتنا، وما يتخلف عنها إلا منافق معلوم النفاق
“Saya telah melihat (keadaan kami pada waktu itu) tidaklah ada yang meninggalkan shalat jama’ah, kecuali seorang munafik, yang dimaklumi kemunafikannya.”
Sebagian ulama tafsir menerangkan makna firman Allah,
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.” (QS. Al-Shaffat: 35)berlaku bagi orang yang tidak menghadiri shalat jamaah.
Ulama sepakat disyariatkannya shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki sehat, muqim, dan mendengar adzan. Perbedaan terletak pada hukumnya. Tiga imam madzhab; Abu Hanifah, Malik, dan Syafi'i rahimahumullah berpendapat sunnah mu'akkadah, tidak wajib.

Sedangkan Imam Ahmad dan lainnya, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim, berpendapat wajib berJama'ah dalam shalat lima waktu bagi laki-laki mukallaf. Sebagian sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud serta beberapa ulama tabi'in dan ulama madzhab Dzahiri berpendapat demikian.
Pernah ada laki-laki buta datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata, "Ya Rasulullah, sungguh aku tidak punya pemandu yang menuntunku ke masjid." Lalu Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberi rukhshah (keringanan) padanya. Ketika dia beranjak pergi, beliau memanggilnya dan bertanya, "apakah kamu mendengar panggilan shalat (adzan)?” Dia menjawab: "Ya." Beliau bersabda, "penuhilah panggilannya." (HR. Muslim dalam shahihnya)

Shalat adalah media penghubung hamba kepada Rabb-Nya. Keselamatan dan keberuntungan hamba sangat tergantung kepada baiknya hubungan ini. “Siapa berpegang teguh kepada Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali Imran: 101)
Ibnu Katsir menerangkan bahwa menjaga hubungan baik dengan Allah dan tawakkal kepada-Nya adalah modal hidayah dan dijauhkan dari kesesatan, sarana kepada petunjuk, jalan yang lurus, dan sampai kepada tujuan.


Tidak mungkin umat ini akan berjaya tanpa menjaga hubungan baik dengan Allah ‘Azza w Jalla. Tidak mungkin meraih keberuntungan jika tidak mengagungan syiar Allah ini. Pantaslah jika para ulama menganggap orang-orang yang meninggalkan shalat berjamaah sebagai munafikin dan jauh dari Allah Ta’ala.
Fadhilah Syaikh Shalih Fauzan berkata, “Adapun jika dia shalat Jum’at bersama jama’ah, dan meninggalkan shalat jamaah pada sebagian shalat wajib lima waktu, akan tetapi dia tetap shalat (sendiri), maka ini adalah munafik, (karena) orang yang meninggalkan shalat lima waktu berjamaah adalah seorang munafik.”

Kemudian beliau nukil hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, “Shalat yang paling berat bagi seorang munafik adalah shalat Isya’ dan Shalat Subuh.” (Muttafaq ‘Alaih)
Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu berkata, “Saya telah melihat (keadaan kami pada waktu itu) tidaklah ada yang meninggalkan sholat jama’ah, kecuali seorang munafik, yang dimaklumi kemunafikannya”.” . Wallahu A’lam.

Sumber : lfawzan.af.org.sa/


Setiap Saat Kita sedang Menuju kepada Allah, Apa yang Sudah Kita Siapkan?

Ingat, Kita sedang Menuju kepada Allah, Apa yang Sudah Kita Siapkan?

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Perjumpaan dengan Allah adalah kepastian bagi setiap insan. Ia datang kepada Allah dengan membawa usaha dan amal selama di dunia. Allah menghisab setiap usaha dan amal itu lalu memberikan balasan atasnya. Hendaknya setiap kita mengusahakan amal yang mendatangkan ridha Allah dan menjauhkan dari murka-Nya. Jangan lah usaha kita mengundang murka Allah maka kita akan binasa.
Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,
يَاأَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq: 6)
Kata “Al-Insan (manusia) dalam ayat ini bersifat umum yang mencakup setiap manusia apapun kondisinya; mukmin dan kafir, baik dan jahat.
Setiap insan selalu berusaha dan beramal dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan balasan di masa mendatang.
Imam al-Baghawi rahimahullah menjelaskan makna “Kadhun”: amal manusia dan kesungguhannya dalam satu perkara berupa kebaikan dan keburukan.
Imam al-Thabari rahimahullah berkata tentang ayat ini, “wahai manusia, sesungguhnya kamu benar-benar pekerja amal (di bawa menuju) kepada Tuhanmu, lalu kamu pasti berjumpa kepada-Nya dengan amal-amal itu; amalmu itu berupa kebaikan atau keburukan.”
Kemudian beliau memberikan nasihat, “Maka hendaknya amalmu termasuk amal yang akan menyelamatkanmu dari murka-Nya dan mendatangkan ridha-Nya untukmu. Janganlah amalmu itu termasuk amal yang membuat Allah murka terhadap-Mu sehingga engkau akan binasa.”
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentangnya, bahwa manusia melakukan usaha dan mengerjakan amal yang sungguh-sungguh dibawa kepada Allah kemudian ia akan menjumpai apa yang sudah diamalkan barupa kebaikan atau keburukan.
Beliau juga menyebutkan penafsiran kedua, bahwa manusia akan berjumpa dengan Allah, lalu Allah membalas untuknya dengan amalnya dan menggaji usahanya tersebut.
Memperjelas ayat ini, Ibnu Katsir menukil hadits yang diriwayatkan Abu Dawud al-Thayalisi, Jibril ‘alaihis salam berkata:
يا محمد، عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب ما شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك ملاقيه
“Hai Muhammad, hiduplah sesukamu maka kamu pasti akan meninggal, cintailah apa yang kau inginkan maka kamu pasti berpisah dengannya, dan beramalah sekedendakmu maka pasti kamu akan menjumpainya.”
Ingat, setiap saat kita sedang berjalan menuju Allah dengan usaha dan amal kita yang baikya dan yang buruknya. Pasti, Allah membalas untuk kita dengannya. Hendaknya amal kita itu yang mendatangkan ridha Allah dan menyelamatkan kita dari murka-Nya. Wallahu A’lam.
sumber : voa-islam.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog