Tanda Orang Yang Sukses

Ketika membaca surah Ali Imran ayat 185 dan terjemahannya, ada beberapa hal muncul di benak untuk kita jadikan sebagai bahan renungan. Allah berfirman yang artinya:

Inilah Rahasia Di Balik Berteman Dengan Orang Buruk

Islam mengatur kehidupan umat manusia dengan sangat baik. Islam memberikan petunjuk secara paripurna dengan cara yang sangat sempurna. Islam mengatur seluruh persoalan, pun yang dianggap tidak penting bagi pandangan hidup orang kekinian.

Ketika Inggris Mengidolakan Dunia Islam

Tanpa orang-orang Islam, mungkin tak akan ada gula dan Shakespeare di Inggris. Jerry Brotton dalam The Sultan and the Queen melacak pengaruh Islam terhadap budaya Inggris selama setengah millennium (500 tahun), antara masa Perang Salib hingga kebangkitan Kerajaan Inggris di Timur Tengah.

Etika Dalam Menasehati Orang Lain

Nasihat memiliki tempat yang penting dalam agama Islam. Memberi nasihat dapat memantapkan persaudaraan di antara umat Islam. Terlebih, bila nasihat yang disampaikan seorang Muslim semata-mata hanya karena Allah dan muncul sebagai wujud kasih sayang terhadap saudaranya.

Mengapa Yahudi Begitu Takut Pada kaum Wanita ?

Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya.

Kamis, 26 Januari 2017

Menjadi Wanita Solehah, Haruskah Menunggu Lelaki Soleh Dulu ?

Menjadi Wanita Solehah, Haruskah Menunggu Lelaki Soleh Dulu?

ADA yang menggelitik dari cuplikan tayangan sebuah infotainment pagi ini di televisi. Seorang artis penyanyi wanita yang terkenal karena goyang mautnya, menyatakan bahwa dirinya tengah mendambakan seorang suami. Ia menginginkan seorang lelaki yang bisa “menuntunnya menjadi wanita sholehah”. Katanya, sejauh ini ia belum menemukan lelaki yang bisa “menggugah” hatinya.

Sungguh pernyataan yang membuat miris. Karena ia seakan mencari pembenaran atas perilakunya selama ini yang jauh dari cerminan pribadi sholehah. “Belum menemukan lelaki yang bisa menggugah hati saya untuk menjadi wanita sholehah.” Maka ia merasa sah-sah saja jika terus bertahan dengan perilaku jahiliyahnya: hobi bergoyang erotis, mengumbar aurat, ribut dengan sesama artis, menjadi pribadi yang suka meledakkan kemarahan di depan publik, dan sebagainya.

Padahal, dalam salah satu ayat Alquran, Allah berfirman yang artinya: “Perempuan-perempuan keji adalah untuk laki-laki keji, dan laki-laki keji untuk perempuan keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan baik untuk laki-laki baik, dan laki-laki baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula) …” (QS. An-Nur (24): 26)
Sebuah ayat yang tepat untuk melakukan muhasabah diri. Jika diri kita masih berkubang dalam lumpur kemaksiatan, layakkah kita berharap mendapatkan lelaki sholeh? Sedangkan Allah sendiri telah memberikan ketetapan bahwa wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik.

Berusahalah menjadi baik (sholehah) dahulu sebelum berharap mendapatkan pendamping yang sholeh. Seorang wanita yang mampu menjaga kebaikan dirinya, insya Allah nanti akan diberi pendamping yang baik oleh-Nya. Di antara kebaikan keislaman seorang wanita adalah jika dia mengetahui agamanya. Maka Islam mewajibkan para wanita mencari ilmu sebagaimana yang diwajibkan terhadap kaum laki-laki.

Mari renungkan ayat berikut: “Katakanlah, ‘Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS Az-Zumar (39): 9)
Sebuah pertanyaan retoris. Karena tentu saja, antara orang yang berilmu dan tidak berilmu, memiliki derajat yang berbeda di mata Allah swt, sebagaimana firman-Nya dalam ayat yang lain: “Allah mengangkat derajat orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat …” (QS. Al Mujaadalah (58): 11)

Wahai wanita muslimah. Ingin mendapatkan pendamping yang sholeh? Jadilah wanita yang berilmu dahulu, sehingga mengetahui cara menjadi wanita sholehah. Lantas praktekkan ilmu tersebut. Terakhir, berdoalah agar Allah memberimu pendamping yang sholeh. Insya Allah, jodohmu adalah seorang yang sholeh.
Wallaahualam bisshowab.

Sumber: cyberdakwah

Bagaimana Cara Mengekspresikan Marah Dalam Islam ?

Bagaimana Cara Paling Baik Untuk Mengekspresikan Marah Dalam Islam

Marah, merupakan salah satu ekspresi yang sangat manusiawi. Saat sesuatu hal menjadi sangat mengganggu, emosi seseorang bisa aja meningkat bahkan meledak. Namun sebagai agama yang paling baik, Islam telah mengarahkan manusia untuk dapat mengkontrol emosinya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” (HR al-Bukhari)

Lalu, bagaimana cara terbaik dalam mengekspresikan marah? Apakah memang lebih baik diam dan tidak berbicara sepatah kata apapun agar tidak memperburuk keadaan?
Dalam hal ini bagaimana cara paling baik untuk mengekspresikan emosi. Bukan dengan balik memarahi atau bahkan menghardik namun dengan sabar. Sabar sendiri bukan berarti diam dan tidak melakukan apapun.
Sabar dan memendam amarah berbeda. Jika memang terjadi sebuah kesalah pahaman, dan kita tahu bahwa itu tidak benar maka ungkapkan dengan kata-kata yang baik. Mengungkapkan hal seperti itu tidak berarti kita kehilangan rasa sabar, sepanjang kata-kata yang kita keluarkan terjaga dari sesuatu yang kasar.
Jadi, jika hanya berdiam dan tidak mengatakan sesuatu apapun mengenai kesalah pahaman tersebut maka itu bukan sabar.Manusia tidak bisa memendam amarahnya dan cara terbaik mengekspresikannya adalah dengan sabar. wallahu a'lambisshawab
sumber : dailymoslem.com

Inilah Kunci Untuk Mendapatkan Ketenangan Hidup

Kunci Mendapatkan Ketenangan Hidup Ternyata Hanya Satu, Yaitu..

Banyak orang yang merasa tidak tenang dalam hidupnya, padahal ia hidup dalam keadaan sangat berkecukupan. Beberapa aktris dan tokoh terkenal di luar sana bahkan berani mengakhiri hidup dengan alasan dirinya tidak menemukan ketenangan. Hal itu membuktikan bahwa, ketenangan dan kedamaian hidup bukan berasal dari harta atau kekuasaan.

Lalu, bagaimana cara yang paling benar untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup?
Memiliki emosi seperti sedih ,gelisah, marah dan lain sebagainya memang merupakan hal yang manusiawi. Biasanya, emosi-emosi seperti itu akan muncul ketika sesuatu yang buruk terjadi, namun tidak menutup kemungkinan muncul saat hidup sedang baik-baik saja. Hal itu disebabkan karena, manusia selalu merasa kurang atas segala sesuatu. Akhirnya, mereka akan terus berusaha mencapai keinginannya untuk merasa puas dan tenang.
Padahal, sudah jelas disebutkan dalam Al-Quran bahwa orang-orang yang akan mendapatkan ketenangan adalah mereka yang menjaga imannya. Allah Subahanu wa Ta’ala berfirman,
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencapuradukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat ketenangan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Q.S Al-Anaam:82).
sumber : dailymoslem.com

3 Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Al Quran Yang Harus Kamu Ketahui

Inilah 3 Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Al-Qur'an

Seorang Muslim sejatinya memiliki tiga kewajiban terhadap Al-Qur’an sebagai kitab suci yang akan menjadi bekal kita hingga akhir zaman. Tiga kewajiban tersebut antara lain adalah mengimani Al-Qur’an, mempelajari Al-Qur’an dan juga mengamalkannya.

1. Mengimani Al-Qur’an

Sebagai umat Muslim, tentu kita memiliki kewajiban untuk mengimani Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam yang diwahyukan kepada Nabi terakhir kita Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa Salam melalui Malaikat Jibril.
Iman terhadap Al-Qur’an merupakan salah satu tanda sempurnanya iman Islam kita. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai ciri-ciri orang yang bertakwa,
“dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 4)

2. Mempelajari Al-Qur’an

Mengimaninnya saja sebagai kitab suci tentu tidak cukup, kita perlu mempelajarinya agar kita paham apa saja makna-makna yang terkandung di dalamnya. Mempelajari AL-Qur’an dapat dilakukan dengan cara membaca Al-Qur’an terjemahan ataupun membaca tafsir-tafsir Al-Qur’an yang banyak ditulis para ulama. Selain itu, bisa juga dengan mengikuti pengajian-pengajian yang membahas mengenai tafsir Qur’an.

3. Mengamalkan Al-Qur’an

Mengamalkan Al-Qur’an dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menerapkan ilmu-ilmunya dalam kehidupan sehari-hari kita, sehingga tindak-tanduk dan semua penyelesaian masalah yang kita lakukan bersumber dari Al-Qur’an. Juga bisa dengan cara mendakwahkannya atau mengajarkannya kepada umat Muslim yang lainnya.
Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Itulah tiga kewajiban umat Muslim terhadap AL-Qur’an agar kita bisa menjadikan Al-Qur’an sebagai bekal hingga akhir zaman, juga agar Al-Qur’an menjadi syafaat bagi kita di hari kiamat. Wallahu a'laam bisshawab.
sumber : dailymoslem.com

Mengapa Kita Diharuskan Berkata Yang Baik-Baik ?

Berkatalah yang baik-baik saja atau diam!

Jangankan kepada manusia, bahkan mencela makanan saja Rasulullah melarang.
Berkatalah yang baik-baik saja atau diam!
JIKA diperhatikan secara seksasama, kata-kata kurang positif yang tidak layak belakangan ini sering sekali mewarnai media massa tanah air. Entah itu di televisi maupun media cetak. Ironisnya, mereka yang mengeluarkan kata kurang pantas itu kadang-kadang justru orang-orang terpandang.
Tidak saja itu, saling ‘serang’ pun sering terjadi di media. Satu dengan pihak lainnya saling menyudutkan dan saling menjatuhkan.
Boleh jadi, cerminan  buruk semacam itu tidak saja terjadi di media, tetapi dalam kehidupan sehari-hari dalam tubuh masyarakat. Ada banyak faktor penyebabnya, boleh jadi karena emosi, benci atau rasa kesal yang membelit hati. Akan tetapi, bagaimanapun berkata tidak positif adalah kerugian.
Oleh karena itu, Islam memberikan panduan praktis, bahwa siapa yang tidak bisa berkata baik, maka diperintahkan untuk diam. “Berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari).
Rasulullah pun memberikan keteladanan konkrit akan hal ini. Jangankan kepada manusia, bahkan mencela makanan saja Rasulullah melarang.
Abu Hurairah bertutur, “Rasulullah itu tidak pernah mencela samasekali pada sesuatu makanan. Jika beliau ingin pada makanan itu beliau pun memakannya dan jika tidak menyukainya, maka beliau tinggalkan – tanpa mengucapkan celaan padanya.” (Muttafaq ‘alaih).
Rasulullah mengajarkan umatnya  menjaga diri dari berkata yang tidak baik. Tidak saja kepada manusia, kepada benda atau makanan pun beliau benar-benar menjaga diri dari berkata buruk. Artinya, kita sebagai umatnya juga harus bersikap yang sama seperti beliau, yakni tidak mengeluarkan kata-kata buruk kepada apa pun, lebih-lebih kepada manusia.
Haram Berkata Buruk
Dalam al-Qur’an Allah Ta’ala malah cantumkan secara gamblang bahwa tidak boleh seorang Muslim berkata buruk terhadap Muslim lainnya. Dalam konteks ini adalah mengolok-olok atau menghina saudara Muslim lainnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[ dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Hujurat [49]: 11).
Dalam tafsirnya, Ibn Katsir menguraikan bahwa haram bagi seorang Muslim berkata buruk, menghina, mengolok atau apa pun yang negatif terhadap Muslim lainnya. Dan, siapa yang sering berkata buruk, maka ia termasuk kelompok pengumpat lagi pencela yang pasti akan menerima kecelakaan (QS. Al-Humazah: 1).
Dengan demikian, berkata positif adalah kewajiban. Karena pada hakikatnya di dunia ini tidak ada kesempurnaan. Oleh karena itu Basyar bin Burd (Wafat 167 H) memberikan nasehat penting bagi seluruh Muslim.
“Kalau kau selalu melihat cela pada diri sahabatmu, maka kau tak akan menemui seorang sahabat pun yang tanpa cela. Dan manusia manakah yang sama sekali bersih dari kesalahan? Adakah orang yang semua perangainya bisa engkau terima? Seseorang cukup disebut mulia bila aibnya bisa dihitung.”
Artinya, dalam pergaulan, termasuk dalam kehidupan rumah tangga, kekurangan dan cela atau aib pada diri saudara, istri, anak, orang tua dan siapa pun, pasti akan selalu ada. Pun, demikian jangan jadikan itu sebagai ejekan, olokan atau hinaan. Hal itu haram, sekali lagi haram. Selain dosa juga akan menumbuhkan bibit kebencian hingga permusuhan.
Pepatah Arab mengatakan, “Janganlah meremehkan sesuatu yang kecil dan terhina, mungkin saja jarum itu menumpahkan darah.” Artinya, tidak jarang, perkataan buruk menjadi sebab terjadinya perkelahian hingga pembunuhan. Maka dari itu, biasakanlah diam dan jangan berkata keji. Hormatilah siapa pun dan jangan merendahkan martabatnya.
Ahli hikmah berkata, “Janganlah ada ucapan kotor ketika engkau marah, sebab itu hanyalah menambah cela dan kekurangan, dan menimpuki kenegatifan dan kejelekanmu, serta mendatangkan dosa dan siksa atasmu.”
Bukti Kesempurnaan Iman
Perkataan positif hanya bisa keluar dari orang-orang yang kuat imannya, jernih hatinya dan panjang visinya. Mustahil oang yang lemah imannya, kotor hatinya dan pendek visinya bisa membiasakan diri berkata baik (positif). Sebaliknya, akan sangat mudah berkata negatif.
Jika mengacu pada matan hadits secara utuh dari perintah berkata baik atau diam ini akan kita dapati bahwa ternayta berkata baik atau diam itu adalah bukti dari kualitas keimanan seorang Muslim. “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari).
Dengan kata lain, orang yang suka mengumpat, mencaci, menghina atau pun perkataan buruk lainnya adalah orang yang imannya kurang sempurna bahkan mungkin sudah tak berdaya. Dengan demikian, membiasakan diri berkata positif, menjaga lisan dari berkata keji adalah bagian penting dari kehidupan, karena semua itu secara keseluruhan merupakan bukti kesempurnaan iman.
Dalam rangka menyempurnakan iman ini Abdullah bin Mas’ud sampai berkata, “Tidak ada yang lebih perlu untuk lebih lama dipenjara daripada lidahku.” Lidah memang tidak bertulang, tapi seringkali iman jadi berantakan karena lidah yang tidak terkendali.
Lebih lanjut Abdullah bin Mas’ud berkata, “Jika kau lihat temanmu melakukan dosa, jangan engkau malah menjadi teman setan mengalahkan dirinya. Maksudnya kau katakan, ‘Ya Allah, hinkanlah dia, laknatilah dia.’ Tetapi, mintalah kepada Allah agar dia peroleh ampunan.”
Bahkan, Fudhail bin Iyadh berkata, “Usahakanlah engkau pertahankan saudaramu, meski ia mempunyai tujuh puluh kesalahan. Artinya, kekurangan teman, atau siapa pun, termasuk diri sendiri, hendaknya tidak menjadi perangkap hati berkata buruk. Tetapi sebaliknya, jadikanlah semua itu sebagai bank kebaikan.
Oleh karena itu, mari senantiasa berupaya untuk mampu berkata baik (positif) dan menjauhi perkataan keji (negatif). Kalau pun ada kekurangan pada orang lain kita temukan, jangan terjebak setan untuk memperolok-olokkannya, tapi mari jadikan sebagai cara untuk meningkatkan rasa persaudaraan, cinta serta rasa kasih dan sayang.
Karena Rasulullah berpesan bahwa, “Seorang hamba tidak beriman hingga mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintai untuk dirinya sendiri” (HR. Ahmad). Sebagaimana kita senang dengan perkataan yang baik, demikian pula saudara Muslim kita seluruhnya, mereka juga mendamba perkataan positif dari mulut atau lidah kita. Dan Muslim yang baik seharusnya banyak berbuat baik daripada banyak bicara.*/Imam Nawawi.
sumber : aqlislamiccenter.com

Rabu, 25 Januari 2017

6 Faktor Yang Menyebabkan Manusia Rusak

gambar ilustrasi

Seorang ulama Mesir, Dzun Nun Al-Mishri berkata, Ada 6 faktor yang menyebabkan manusia itu rusak, di antaranya :
1. Semangat akhiratnya Lemah. Yang menonjol semangat dunianya. Kalau sudah urusan dunia selalu siap kapan saja, dimana saja, dan dalam kondisi apa saja. Tapi kalau sudah urusan akhirat, selalu banyak alasan. Berapa byk kita lihat orang dgn pemikirannya dari bangun hingga tidur lagi, selalu fikirannya dunia dan dunia. Berbeda dengan para sahabat Nabi SAW, bagaimana mereka fikirannya, hartanya, dan semua potensi yang dimilikinya, selalu digunakan u/ akhirat dan u/ perjuangkan Islam.
2. Badannya mengikuti kehendak syahwat dan hawa nafsunya. Ketika syahwat kita bertentangan dgn syariat ALLAH SWT : Lawan !, Ketika Ngantuk : Bangun ! , Diberikan sesuatu yang Haram : Tolak ! .
3. Karena angan2nya panjang, padahal umurnya pendek. Angan2nya lebih jauh dari usianya. Bila punya angan2, jadikan-lah angan2 kita itu untuk membangun akhirat.
4. Mendahulukan ridha, kesenangan, dan keinginan manusia, dibandingkan ridha dan keinginan ALLAH SWT. Berapa banyak orang yg ingin pekerjaan, lalu diterima di pekerjaan tsbt dengan syarat melanggar perintah ALLAH SWT, dan mereka menerimanya. Mendahulukan kehendak perusahaan diatas kehendak ALLAH SWT : Ketika tdk boleh sholat, mereka tdk sholat. Ketika disuruh melepas jilbab, mereka melepasnya.
5. Mengikuti hawa nafsunya, sehingga kemudian meninggalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Baik dlm berpakaian, dalam berbicara, dalam bertingkah laku, dalam ekonomi, dalam ber-negara, mereka tidak mau mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah SAW.
6. Mengikuti contoh-contoh yang salah. Mengikuti tingkah laku tokoh barat, music, film, dan orang2 yg tdk berilmu.
wallahu a'lambisshawab
sumber : aqlislamiccenter.com

5 Cara Melawan Penyakit Riya Agar Tidak muncul Dalam Hati Seorang Hamba

riya

Riya memang merupakan salah satu penyakut hati yang paling berbahaya. Begitu banyak dalil yang menjelaskan bahwa riya menggugurkan amal kebaikan. Karena itu berbagai upaya harus dilakukan untuk menjauhkan munculnya riya dalam hati.
Di antara cara yang harus dilakukan untuk menjauhkan penyakit riya adalah:
1. Menanamkan muraqabatullah. yakni merasa selalu diawasi oleh Allah, tidak hanya kondisi lahir tetapi juga kondisi hati kita. Harus ditanamkan selalu bahwa Allah senantiasa melihat dan mengetahui apa yang terdapat dalam hati kita. Inilah derajat ihsan yang dsebutkan oleh Nabi saw.
2. Berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah. Sebab, Dia yang menggenggam hati manusia. Mudah bagi Allah untuk menjadikan hati ini baik dan bersih. Di antaranya dengan redaksi doa yang diajarkan Nabi saw,
اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئا نعلمه ونستغفرك لما لا نعلم ” رواه أحمد (4/403
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap menyektukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampunan atas sesuatu yang tidak kami ketahui.”
3.  Mengetahui dampak buruk riya serta akibatnya bagi hati dan amal, baik di dunia apalagi di akhirat.
4. Menyadari bahwa pujian dan sanjungan manusia hanya menipu, bersifat sementara, dan sama sekali tidak memberikan manfaat. Sebagaimana celaan mereka juga tidak bisa mendatangkan bahaya. Ketika ada yang datang kepada Nabi saw seraya berkata, “Pujianku mendatangkan kebaikan sementara cacianku mendatangkan aib,” beliau menjawab, “Yang bisa berbuat semacam itu hanya Allah Swt.”
5. Berusaha menyembunyikan amal dan tidak memerlihatkannya; terkecuali dalam rangka untuk memberikan contoh kebaikan selama hati tetap bisa dijaga.
Demikian di antara upaya untuk melepaskan diri dari penyakit riya. Jika berbagai upaya sudah dilakukan dengan sekuat tenaga, yakinlah bahwa insya Allah kebaikan akan Allah berikan. Yang penting adalah ada usaha yang kuat dengan selalu berusaha mengusir bisikan dan meminta perlindungan kepada-Nya. Sesudahnya pasti Allah akan memberikan jalan petunjuk menuju keikhlasan. Allah befirman, “Orang-orang yang berjuang di jalan Kami, niscaya Kami antar mereka kepada jalan-jalan Kami. Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Ankabut: 69).
Wallahu a’lam.
sumber : aqlislamiccenter.com

Mengapa Yahudi Begitu Takut Pada kaum Wanita ?




Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya.
Wanita-wanita Barat hanya dikonsep untuk mendefinisikan arti kepribadian dalam pengertian yang sangat primitif, yakni tidak lain konsep pemenuhan biologis semata. Dosen dan pelacur bisa jadi sama kedudukannya mirip dengan perkataan Sumanto Al Qurtubhy, kader Liberal didikan Kanada yang berujar, “Lho, apa bedanya dosen dengan pelacur? Kalau dosen mencari nafkah dengan kepintarannya, maka pelacur mencari makan dengan tubuhnya.”
Qurthuby hanyalah muqollid (pengikut) dari Sigmund Freud, psikolog kenamaan asal Austria yang membumikan konsep psikoanalisis. Ia mengatakan ketika dorongan seksual sudah menggelora dalam diri pria maupun wanita, maka sudah selayaknya mereka tuntaskan lewat jalan perzinahan, tanpa harus melalui alur pernikahan. Maka itu Freud menuding orang yang senantiasa menjaga akhlaknya rentan terserang gangguan psikologis seperti neurosis.
Kini Freud memang telah mati, namun gagasan itu membekas dalam pribadi orang Barat. Jika anda kerap menyaksikan berita Olahraga, pembawa acara sering memberitakan bahwa salah seorang pemain sepakbola di Inggris telah memiliki anak dari pacarnya, ya pacar dan bukan istri. Karena konsep pernikahan sudah mendebu di benua biru.
Pasca kematian Freud, muncul banyak pengganti yang tidak lebih ekstrem, salah satunya Lawrence Kohlberg. Ia adalah pengusung metode pendidikan Karakter. Metode ini sudah gagal di Barat dan sekarang diimpor ke negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia. Wajah pendidikan Karakter terlihat manis. Ia mentitah agar para siswa berperilaku jujur dan memegang komitmen. Namun ia tidak memliki dasar agama, jika seorang remaja memilih untuk hidup tanpa tuhan, tidak menjadi persoalan dalam pendidikan karakter, asal itu dapat dipertanggungjawabkan.
Begitu pula masalah hubungan seks. Bagi Kohlbergian, kita tidak boleh menyalahkan seorang anak perempuan yang hamil di luar nikah, sebab masalah baik atau buruk menjadirelative. Pendidikan Karakter pun tidak boleh menghakiminya, karena anak akan jatuh salah jika ia tidak bisa mempertanggungjawabkan hubungan seksnya. Jadi jika remaja perempuan hamil masih bisa terbebas dari dosa, asal ia siap menjadi ibu. Urusan benar atau salah tergantung tanggung jawab, bukan agama. Maka tak heran, ketika Lawrence Kohlberg lebih memilih bunuh diri dengan menyelam di laut yang dingin pun disambut gembira oleh masyarakat Barat. Alasannya bisa membuat kita sebagai umat muslim tertawa: Kohlberg telah memilih jalan yang memang ia kehendaki.
Kita kembali lagi ke masalah perempuan. Kehidupan Barat yang bebas sejatinya diawali dari kehendak dari kalangan wanita untuk hidup bebas dan merdeka sesukanya.
M. Thalib, cendekiawan muslim yang telah menulis puluhan buku tentang pendidikan Islam juga menekankan bagaimana proyek Zionis dibalik wacana pembebasan wanita di Barat. Menurutnya kaum Yahudi memiliki peran kuat dibalik slogan Liberty, Egality dan Fraiternity (kebebasan, persamaan dan persaudaraan) kepada bangsa Perancis.
Hal ini dipropagandakan oleh Zionis dan disebarkan ke penjuru dunia hingga kita bisa merasakan apa yang disebut Hak Asasi Manusia dan Feminisme pada saat ini. Dalam bukunya, “Pergaulan Bebas, Prostitusi, dan Wanita”, M. Thalib menulis, “Slogan-slogan inilah yang membuat orang-orang bodoh turut serta mengulang-ulanginya di seluruh penjuru dunia di kemudian hari, tanpa berfikir dan memakai akalnya lagi.”
Mungkin terasa ganjil bagi kita, mengapa Yahudi sebagai bangsa yang pongah begitu takut dengan perempuan? Jawabannya sederhana: membiarkan seorang wanita tumbuh menjadi solihah adalah alamat “kiamat” bagi mereka. Jika seorang ibu yang solehah mengasuh 5 anak muslim di keluarganya untuk tumbuh menjadi generasi mujahid. Kita bisa hitung berapa banyak generasi yang bisa dihasilkan dari 800 juta perempuan muslim saat ini?
Sumber: Islampos.

Makna Dan Hakekat Sujud



Dalam ayat terakhir surah Al-‘Alaq, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “wasjud waqtarib.” Sebuah ayat yang berisi perintah, dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada-Ku). Maknanya gamblang dan jelas, bahwa bersujud merupakan suatu sarana dalam ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.
Ditinjau dari nilai-nilai psikologis, posisi sujud adalah rukun sholat yang memiliki nilai keutamaan yang lebih tinggi ketimbang gerakan atau rukun sholat yang lainnya.
Saat bersujud adalah saat di mana seorang hamba betul-betul merendah, menunjukkan kerendahannya di hadapan sang Ilahi Rabbi.
Pada saat kita bersujud, posisi kepala kita berada di tanah. Lebih rendah dari dada, lebih rendah dari perut, bahkan lebih rendah dari dubur. Ada nilai filosofis yang besar yang terkandung di dalam gerakan sujud.
Apabila diibaratkan kepala itu sebagai tempatnya akal, pikiran, atau rasionalitas, sementara dada itu adalah tempatnya hati (qalb), pada saat kita bersujud, posisi akal pikiran kita berada lebih rendah dibandingkan dengan posisi hati (qalb atau qalbu) kita.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam bersabda di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
أقرب ما يكون العبد الى الله عزوجل اذا سجد, فاكثروا الدعاء عند ذلك
“Jarak paling dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT adalah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah doa pada saat yang demikian.”
Ditinjau dari segi etimologi kebahasaan, sujud berarti tunduk dan khudu’, merendah, serta cenderung. Namun secara istilah, sujud bermakna meletakkan sebagian dari kening ke atas tanah tanpa penghalang.

Kesempurnaan Sujud

Meletakkan kedua lutut, telapak tangan secara keseluruhan, kedua telapak kaki, kening bersamaan dengan hidung. Para ahli fiqih bersepakat bahwa sujud yang sempurna pada tujuh anggota tubuh. Ketujuh anggota tubuh itu adalah:
  • kening
  • kedua telapak tangan
  • kedua lutut
  • kedua bagian telapak kaki
Pada saat bersujud, wajah, sebagai bagian tubuh yang paling tinggi dan paling terhormat, diletakkan di bawah sehingga sejajar dengan telapak kaki. Ini menyimbolkan kerendahan diri kita untuk di hadapan Allah SWT.
sumber : fimadani.com

6 Jual Beli Yang Terlarang Dalam Islam

Hukum Jual Beli

Hukum Jual Beli – Praktek Jual beli sudah ada sejak Sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam hingga sampai sejak ini. Namun perlu anda ketahui juga bagaimana hukum-hukum jual beli agar uang yang anda dapatkan dari jual beli tidaklah haram.

1.Menurunkan Harga Jual Dari Harga Pasaran
Menjual jasa atau barang dengan harga jual yang jauh dibawah harga jual pasaran maka hukumnya haram karena bisa berdampak merugikan penjual lainnya. Selain itu juga dapat menimbulkan kecurangan-kecurangan dari penjual seperti halnya memalsukan produk yang dijual karena dapat dijual dengan harga yang lebih murah. Dan ini juga akan berdampak menimbulkan prasangka buruk dan omong-omongan di kalangan pedagang. Seperti sabda rasul:
Janganlah seseorang di antara kalian menjual diatas jualan saudaranya (HR. Bukhari No. 2139).
2.Jual Beli Najesy
Jual beli Najesy merupakan jual beli yang dilakukan dengan cara menaikkan harga dan mendorong seorang pembeli untuk membeli barang yang ia jual dengan cara memuji-muji barang dagangannya secara berlebihan yang mana hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang ia puji. Jual beli ini dilarang dalam agama islam karena ada unsur penipuan pada penjual. Sebagaimana sabda nabi:
Janganlah seseorang menjual diatas jualan saudaranya, janganlah melakukan najesy dan janganlah orang kota menjadi calo untuk menjualkan barang orang desa. (HR. Bukhari No. 2160 dan Muslim No. 1515).
Namun menaikkan harga jual barang tidak jadi masalah apabila tidak ada unsur paksaan membeli ataupun memuji-muji barang yang tidak sesuai dengan kualitasnya. Layaknya seperti jual beli dengan sistem lelang, ini diperbolehkan karena tidak ada unsur paksaan yang mana akan merusak akad dari jual beli itu.
3.Dilarang Menjual Barang Sebelum Masuk Pasar
Maksudnya dilarang menjual barang sebelum masuk pasar adalah orang yang menjual dagangannya di luar pasar yang mana calon pembeli tidak tahu harga pasaran barang dagangan tersebut. Hal ini dilarang karena juga terdapat unsur penipuan dari penjual kepada calon pembeli. Sebagaimana sabda nabi:
Janganlah menyambut para pedagang luar. Barangsiapa yang menyambutnya lalu membeli barang darinya lantas pedagang luar tersebut masuk pasar (dan tahu ia tertipu dengan penawaran harga yang terlalu rendah), maka ia punya hak khiyar (Pilihan untuk membatalkan jual beli) (HR. Muslim No. 1519).
Apabila diadaptasikan ke dunia modern seperti pada zaman sekarang, kita dapat mengambil inti dan maksud dari Sabda Nabi Muhammad tersebut. Yakni larangan untuk menjual dengan cara menaikkan harga barang kepada orang yang tidak tau harga barang tersebut di pasaran. Ini sering terjadi di sekitar kita.
4.Menjual Barang Dagangan Bukan Milik Sendiri, Atau Menjadi Calo.
Janganlah kamu menjual barang yang bukan milikmu. (H.R. Abu Daud dan Nasa’i; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Dari hadist Riwayat Abu Daud tersebut jelas dikatakan bahwa kita dilarang untuk menjual barang dagangan yang bukan milik sendiri dan hal ini sangat sering sekali terjadi di sekitar kita. Ada banyak calo-calo yang menjualkan barang-barang dagangan dimana barang itu bukan milik mereka sendiri. Seperti calo yang menjadi perantara untuk menjualkan properti, sistem dropship yang belum ada kesepakatan antara penjual dan pembeli.
Terus apakah menjual barang yang bukan milik sendiri benar-benar haram untuk dilakukan? Berikut penjelasannya:
Menjual barang yang bukan milik sendiri boleh dilakukan dengan 2 syarat yang berbeda sebagai alternatif lain, yakni:
Harga telah ditetapkan oleh si pemilik barang, anda hanya bisa memasarkan barang dagangan tersebut dan mendapatkan upah apabila barang berhasil terjual. Dalam Ilmu Fiqih Muamalah ini disebut Ju’alah (jual jasa) yakni menjual jasa pemasaran. Menjual jasa diperbolehkan di dalam agama islam.
Harga barang juga boleh ditentukan sendiri, setelah mendapatkan pembeli lalu kita membeli barang dagangan tersebut dengan maksud dan tujuan nantinya barang tersebut akan diberikan kepada pembeli. Namun pembeli mempunyai hak penuh apabila ingin membatalkan pembelian tersebut. Transaksi ini disebut “bai’ al-murabahah lil amir bisysyira" dimana anda dianggap sudah memiliki barang tersebut.
Menjadi calo dilarang didalam islam, sebagaimana sabda nabi yang lainnya:
Janganlah menyambut para pedagang dari luar (talaqqi rukban) dan jangan pula menjadi calo untuk menjualkan barang orang desa. Ayah Thowus lantas berkata pada Ibnu ‘Abbas, “Apa maksudnya dengan larangan jual beli hadir li baad?" Ia berkata, “Yaitu ia tidak boleh menjadi calo". (HR. Bukhari nol. 2158).
Namun menurut jumhur, jual beli dengan menjadi calo hukumnya tetap sah. Beberapa ulama lain mengatakan ini diperbolehkan dengan syarat sebagai berikut:
Barang yang dijual merupakan barang yang pada umumnya dibutuhkan oleh orang banyak, yakni seperti makanan, baju, celana dan lain sebagainya. Apabila barang yang dijual merupakan barang yang jarang dibutuhkan, maka transaksi ini termasuk haram.
Transaksi ini haram apabila harga yang dimaksud sesuai dengan harga pada saat itu. Namun jika harganya dibayar dengan cara mengangsur maka ini tidaklah masalah karena ini dianggap membantu seseorang untuk membeli.
Orang desa tidak mengetahui harga pasaran di kota. Jika mereka tahu, maka ini tidak masalah. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 9:83)
5. Menimbun Barang Dagangan
Tidak boleh menimbun barang, jika tidak, maka ia termasuk orang yang berdosa (HR. Muslim no. 1605).
Yang dimaksud dengan menimbun barang yaitu menyimpan barang dagangan tersebut, lalu baru akan menjualnya diwaktu harga di pasaran sedang naik. Ini jelas dilarang karena akan membuat orang kesulitan. Seperti contohnya menyimpan barang sembako dengan maksud dan tujuan menjualnya nanti pada saat harga bbm naik. Sedangkan orang-orang pada saat itu sedang kesulitan untuk mendapatkannya. Nabi menganjurkan untuk menjual barang dagangan pada saat itu juga dengan harga yang sesuai.

6.Menukar Emas Dengan Emas
Taukah Kamu bahwa Menukar emas dengan emas hukumnya haram. Ada banyak kejadian yang terjadi disekitar kita kegiatan tukar tambah emas ubu. Ini jelas haram hukumnya karena dapat menimbulkan riba. Sebagaimana sabda nabi:
Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa. (HR. Muslim no. 1584)
Emas merupakan barang dagangan yang berbeda dengan barang dagangan lainnya. Apabila anda ingin menukarkan emas yang anda miliki, maka jual lah terlebih dahulu emas yang anda miliki kemudian barulah membeli kembali emas yang lain.
sumber : fimadani.com

Umat Islam Bekasi Kumpulkan Tanda Tangan Untuk Tolak Kriminalisasi Ulama

Tanda-tangan-tolak-kriminalisasi-ulama-3343nse6jsn34pdoamc4ju

Panitia Tabligh Akbar ‘Dialog Kebangsaan dan Deklarasi Umat Islam’ yang digelar di Ponpes At-Taqwa Putra, Jl. Pesantren Attaqwa, RT.01 / RW.14, Ujung Harapan, Babelan, Bekasi, pada Rabu (25/01), juga menggelar aksi pengumpulan tanda tangan untuk membela ulama dan habaib. Aksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap kriminalisasi ulama dan habaib yang akhir-akhir ini marak.

“Sebagai bentuk persatuan umat Islam atas keadilan yang tidak berpihak pada umat Islam, khususnya pada kriminalisasi ulama dan habaib,” kata salah satu panitia Tabligh Akbar, Ihya Ulumuddin, kepada Kiblat.net di lokasi.

Dia menegaskan menolak kriminalisasi ulama dan habaib. Sebab umat Islam sebagai benteng terakhir.

“Oleh sebab itu, kami bentuk aksi tanda tangan para peserta deklarasi ummat Islam di Ponpes At-Taqwa putra,” tukasnya.

Ihya juga mengungkapkan bahwa panjang kain yang digunakan untuk tanda tangan mencapai sepuluh meter. Menurut pantauan Kiblat.net, peserta Tabligh Akbar yang memberikan tanda tangan pun dari berbagai usia. Dari anak-anak hingga orang tua.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pagi ini ribuan umat Islam Bekasi berbondong-bondong mendatangi masjid Ponpes At-Taqwa Putra untuk menghadiri Tabligh Akbar bersama ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia.


sumber : kontenislam.com

Ini Jawaban Baim Cilik Ketika Ditanya Pilih Pesantren Atau Balik Lagi Ke Dunia Hiburan

baimmm

Lama tak terlihat di layar kaca dan dunia hiburan, Ibrahim Khalil Alkatiri kini sibuk mempersiapkan diri belajar. Pasalnya, ia akan masuk sekolah menengah pertama di pondok pesantren. Artis yang terkenal dengan nama Baim Cilik kini tampak lebih dewasa

"Yang pertama itu ada tes pondok (pesantren). Dites mengaji, wawancara gitu. Kata kakak Aim ketika dites, jangan menghafal (alquran) dulu. Menghafal nanti kalau udah masuk di pondok. Yang pertama itu ngelancarin dulu baca Alquran dulu," kata Baim, yang mengikuti tes masuk 22 Januari 2017 lalu.

Ayah Baim paham betul bahwa saat ini kemajuan berkembang pesat. Menanamkan pemahaman agama Islam kepada anak adalah yang sangat penting.

"Sekarang sudah kemajuan zaman, banyak yang merusak dari socmed dan segala macam. Kita berikan pemahaman, akidah itu penting untuk didik anak-anak. Apalagi laki-laki.  Yang penting pondasinya dulu. Insyallah dia akan jadi orang yang berguna. Alhamdulillah dari awal kita tanamkan agama, kita kasih pemahaman," kata Ayah Baim kepada stasiun televisi NET.

Ayah Baim menganggap bahwa dari Pondok Pesantren, anak-anak mendapatkan banyak hal. "Dari pondok itu kan semuanya dapat. Dari masalah kemandirian, bersosialiasi dengan orang lain dan pemahaman (Islam) lebih banyak," kata Ayahnya.

Baim yang tenar dengan kalimat "Tolong Aim, Ya Allah" itu mengaku tak berminat lagi kembali ke dunia hiburan dan akting.

"Akting itu buat sementara doang. Kehidupan abadi yaitu agama, doa dan sholat. Kalau syuting atau apa itu hanya sementara doang," kata remaja yang lahir 7 Juni 2005 di Malang, Jawa Timur itu dengan mantap. 

sumber : BersamaDakwah


orang Ini Sudah Lecehkan Allah, Kini Dia Ditetapkan Sebagai Tersangka



Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) Ade Armando resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polda Metro Jaya.
Ade dijerat UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) atas kicauannya di Twitter yang dinilai melecehkan dan menghina Allah.

“Yang bersangkutan dijerat UU ITE,” tegas Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono seperti diberitakan RMOLJakarta.com, Rabu (25/1).
Dijelaskan Argo bahwa Ade Armando dilaporkan oleh seorang warga bernama Johan Khan. Johan menilai kicauan Ade yang berbunyi “Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayat-Nya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, China, Hiphop, Blues” sebagai pelecehan dan penghinaan kepada Allah.

Argo mengatakan pelapor sempat meminta Ade meminta maaf dengan membalas akun Twitter-nya. Tetapi Ade tidak meminta maaf.
Ade menuliskan pesannya itu pada akun Facebook dan Twitter miliknya pada 20 Mei 2015. Tetapi Johan Khan baru melaporkan Ade pada 2016.
Johan mengaku sudah mendesak Ade meminta maaf melalui Twitter, namun tak mau menyanggupinya. Sementara Ade sempat mendatangi Polda Metro Jaya guna mengklarifikasi status dalam media sosialnya itu sekitar Juni 2016.

Saat dimintai konfirmasi terkait dengan hal tersebut, Ade mengaku belum mengetahui dan belum diberi tahu oleh pihak kepolisian.
“Saya belum dihubungi dari pihak kepolisian. Jadi saya tidak tahu apa-apa,” kata Ade kepada detikcom, Rabu (25/1/2017).
Perihal konten cuitannya di Twitter yang dilaporkan oleh Johan Khan ke Polda Metro Jaya, Ade membenarkan hal itu. “Iya benar,” jawabnya singkat.

Sumber: RMOL.co, detikcom

3 Hal yang Wajib Ditempuh sebelum Melakukan Perkara yang Wajib

wanita_islam

Seorang hamba apabila bertekad untuk melakukan suatu perkara maka wajib atasnya untuk pertama kali melihat; apakah hal itu termasuk ketaatan kepada Allah atau bukan?

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata:
“Seorang hamba apabila bertekad untuk melakukan suatu perkara maka wajib atasnya untuk pertama kali melihat; apakah hal itu termasuk ketaatan kepada Allah atau bukan?
Apabila ternyata hal itu bukan ketaatan hendaklah tidak dia lakukan. Kecuali apabila hal itu adalah suatu perkara yang hukumnya mubah/boleh-boleh saja dan digunakan untuk membantu terlaksananya ketaatan. Dalam kondisi seperti ini maka sesuatu yang asalnya mubah tadi berubah menjadi bernilai ketaatan.
Kemudian apabila tampak jelas baginya bahwa hal itu merupakan ketaatan, hendaklah dia melihat kembali hal itu apakah dirinya diberikan bantuan/pertolongan dari Allah untuk melakukan hal itu atau tidak? Apabila dia belum atau tidak mendapatkan bantuan/pertolongan dari Allah untuk melakukannya maka janganlah dia memaksakan diri melakukan hal itu karena hal itu justru akan menghinakan dirinya sendiri.
Apabila dia mendapatkan bantuan/pertolongan dari Allah untuk hal itu maka masih ada perkara lain yang harus diperhatikan; yaitu hendaklah dia mendatangi/memulai perbuatan itu dari pintu/jalan yang semestinya. Karena apabila dia menghampiri perbuatan dan masalah itu tidak melalui pintu/jalan yang semestinya maka dia pasti akan menyia-nyiakan, tidak menunaikan haknya, atau bahkan merusak salah satu bagian di dalamnya.
Ketiga perkara ini adalah pokok kebahagiaan dan sumber keberuntungan hamba. Inilah makna yang tersimpan dalam ucapan hamba ‘Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus’. (QS. Al-Fatihah 5-6).
Oleh sebab itu manusia yang paling berbahagia adalah orang yang menegakkan ibadah –ahlul ‘ibadah-, senantiasa memohon pertolongan Allah –ahlul isti’anah-, dan orang yang menadapatkan curahan hidayah –ahlul hidayah– terhadap segala hal yang dituntut. Dan orang yang paling binasa adalah orang yang kehilangan ketiga perkara ini sekaligus.”
Dari keterangan di atas, dapatlah kita tarik kesimpulan, bahwa kebahagiaan itu ditegakkan di atas tiga pilar utama, yaitu: Ibadah kepada Allah, Isti’anah kepada Allah, Hidayah menuju jalan yang lurus.
sumber : muslimah.or.id

Ridha dan Yakinilah Bahwa Pilihan Allah SWT Itu yang Terbaik



Dalam atsar ini sahabat Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa kondisi susah (miskin atau sakit) lebih baik bagi seorang hamba daripada kondisi senang (kaya dan sehat)

Imam adz-Dzahabi[1] dan Ibnu Katsir[2] menukil dalam biografi sahabat yang mulia dan cucu kesayangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah disampaikan kepada beliau tentang ucapan sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu,, “Kemiskinan lebih aku sukai daripada kekayaan dan (kondisi) sakit lebih aku sukai daripada (kondisi) sehat.” Maka al-Hasan bin Ali berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar, adapun yang aku katakan adalah, ‘Barangsiapa yang bersandar kepada baiknya pilihan Allah untuknya, maka dia tidak akan mengangan-angankan sesuatu (selain keadaan yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala pilihkan untuknya). Inilah batasan (sikap) selalu ridha (menerima) segala ketentuan takdir (Allah Subhanahu wa ta’ala) dalam semua keadaan (yang Allah) berlakukan (bagi hamba-Nya).’”
Atsar (riwayat) sahabat al-Hasan di atas menggambarkan akan tingginya pemahaman Islam para sahabat dan keutamaan mereka dalam semua segi kebaikan dalam agama.[3]
Dalam atsar ini sahabat Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa kondisi susah (miskin atau sakit) lebih baik bagi seorang hamba daripada kondisi senang (kaya dan sehat). Karena biasanya seorang hamba lebih mudah bersabar menghadapi kesusahan daripada bersabar untuk tidak melanggar perintah Allah Subhanahu wa ta’ala dalam keadaan senang dan lapang, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian, adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (diijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalian pun berambisi dan berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berambisi dan berlomba-lomba mengejarnya, sehingga akibatnya dunia itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka.”[4]
Akan tetapi, dalam atsar ini, cucu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Hasan bin ‘Ali mengomentari ucapan Abu Dzar di atas dengan pemahaman agama yang lebih tinggi dan merupakan konsekuensi suatu kedudukan yang sangat agung dalam Islam. Yaitu ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb (Pencipta, Pengatur, Pelindung, dan Penguasa bagi alam semesta), yang berarti ridha juga kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan takdir dan pilihan-Nya, serta kepada apa saja yang diberikan dan yang tidak diberikan oleh-Nya.[5]
Sikap ini merupakan ciri utama orang yang akan meraih manisnya dan sempurnanya iman, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan (manisnya) iman, orang yang ridha dengan Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb-Nya dan Islam sebagai agamanya serta (Nabi) Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rasulnya.”[6]

Pelajaran Berharga
Beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari kisah di atas:
  • Bersandar dan berserah diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah sebaik-baik usaha untuk mendapatkan kebaikan dan kecukupan dari-Nya.[7] Allah Subhanahu wa ta’ala sendiri telah menjanjikan hal ini dalam surat QS. Ath-Thalaq ayat 3. Allah akan mencukupi orang yang senantiasa bertawakal kepada-Nya.
  • Ridha dengan segala ketentuan dan pilihan Allah Subhanahu wa ta’ala bagi hamba-Nya adalah termasuk bersangka baik kepada-Nya, dan ini merupakan sebab utama Allah Subhanahu wa ta’ala akan selalu melimpahkan kebaikan dan keutamaan bagi hamba-Nya. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku.”[8]Makna hadits ini, bahwa Allah akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan     persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat terhadap hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut. Maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala [9]
  • Takdir yang Allah tetapkan bagi hamba-Nya, baik berupa kemiskinan atau kekayaan, sehat atau sakit, kegagalan dalam usaha atau keberhasilan, dan sebagainya, wajib diyakini bahwa itu semua adalah yang terbaik bagi hamba tersebut, karena Allah Subhanahu wa ta’ala maha mengetahui bahwa di antara hamba-Nya ada yang akan semakin baik agamanya jika dia diberikan kemiskinan, sementara yang lain semakin baik bila diuji dengan kekayaan, dan demikian seterusnya.[10]
  • Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi Rahimahullah berkata, “Dunia (harta) tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya (asalnya), tapi (dicela) karena (dikhawatirkan) harta itu akan menghalangi (manusia) untuk mencapai (ridha) Allah Subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana kemiskinan, tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu (umumnya) tidak menghalangi dan menyibukkan (manusia) dari (beribadah kepada) Allah. Berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak menyibukkannya dari (beribadah kepada) Allah Subhanahu wa ta’ala, seperti Nabi Sulaiman ‘Alaihis salam, demikian pula (sabahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) Ustman (bin ‘Affan) Radhiyallahu ‘anhu dan Abdurrahman bin Auf .Radhiyallahu ‘anhu?! Dan berapa banyak orang miskin yang kemiskinannya (justru) melalaikannya dari beribadah kepada Allah serta memalingkannya dari kecintaan serta kedekatan kepada-Nya…”[11]
  • Orang yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala adalah orang yang mampu memanfaatkan keadaan apa pun yang telah Allah Subhanahu wa ta’ala pilihkan baginya untuk meraih takwa dan kedekatan di sisi-Nya. Maka jika diberi kekayaan dia bersyukur dan jika diberi kemiskinan dia bersabar. Saudaraku, maka perhatikanlah bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda seperti berikut,
    عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
    “Alangkah mengagumkan keadaan seorang muknin, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya). Dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenagan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”[12]
sumber : muslimah.or.id

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog