Tanda Orang Yang Sukses

Ketika membaca surah Ali Imran ayat 185 dan terjemahannya, ada beberapa hal muncul di benak untuk kita jadikan sebagai bahan renungan. Allah berfirman yang artinya:

Inilah Rahasia Di Balik Berteman Dengan Orang Buruk

Islam mengatur kehidupan umat manusia dengan sangat baik. Islam memberikan petunjuk secara paripurna dengan cara yang sangat sempurna. Islam mengatur seluruh persoalan, pun yang dianggap tidak penting bagi pandangan hidup orang kekinian.

Ketika Inggris Mengidolakan Dunia Islam

Tanpa orang-orang Islam, mungkin tak akan ada gula dan Shakespeare di Inggris. Jerry Brotton dalam The Sultan and the Queen melacak pengaruh Islam terhadap budaya Inggris selama setengah millennium (500 tahun), antara masa Perang Salib hingga kebangkitan Kerajaan Inggris di Timur Tengah.

Etika Dalam Menasehati Orang Lain

Nasihat memiliki tempat yang penting dalam agama Islam. Memberi nasihat dapat memantapkan persaudaraan di antara umat Islam. Terlebih, bila nasihat yang disampaikan seorang Muslim semata-mata hanya karena Allah dan muncul sebagai wujud kasih sayang terhadap saudaranya.

Mengapa Yahudi Begitu Takut Pada kaum Wanita ?

Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya.

Sabtu, 22 Oktober 2016

Subhanallah, Inilah 8 Sifat Wanita Terbaik

Daripada menuntut terus persamaan gender, mending setiap wanita berusaha memiliki 8 sifat wanita terbaik berikut ini.

8 Sifat Wanita Terbaik


1. Menutup Aurat

Wanita terbaik itu menutup auratnya. Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, menurut pendapat terkuat di antara pendapat para ulama.

Allah Taala berfirman,

"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mumin: "Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59).

Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.

Allah Taala juga berfirman,

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. An Nuur: 31).

2. Berbusana dengan Memenuhi Syarat Pakaian yang Syari

Wanita yang menjadi idaman sepatutnya memenuhi beberapa kriteria berbusana berikut ini yang kami sarikan dari berbagai dalil Al Quran dan As Sunnah.

Syarat pertama: Menutupi seluruh tubuh (termasuk kaki) kecuali wajah dan telapak tangan.

Syarat kedua: Bukan memakai pakaian untuk berhias diri.

Allah Taala berfirman,

"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama." (QS. Al Ahzab : 33).

Abu ‘Ubaidah mengatakan, "Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya." Az Zujaj mengatakan, "Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria."

Syarat ketiga: Longgar, tidak ketat dan tidak tipis sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.

Syarat keempat: Tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asyary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur." (HR. An Nasai, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Syarat kelima: Tidak menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,

"Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria." (HR. Bukhari no. 6834)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka".(HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)

Inilah di antara beberapa syarat pakaian wanita yang harus dipenuhi. Inilah wanita yang pantas dijadikan kriteria.

3. Betah Tinggal di Rumah

Di antara yang diteladankan oleh para wanita salaf yang shalihah adalah betah berada di rumah dan bersungguh-sungguh menghindari laki-laki serta tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak. Hal ini dengan tujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari godaan wanita yang merupakan godaan terbesar bagi laki-laki.

Allah Taala berfirman,

"Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu" (QS Al Ahzab: 33).

Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, "Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan".

Disebutkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-, "Mengapa engkau tidak berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu para istri Nabi yang lain, pent)?" Jawaban beliau, "Aku sudah pernah berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam rumah". Perawi mengatakan, "Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkan". Sungguh moga Allah ridha kepadanya.

Ibnul ‘Arabi bercerita, "Aku sudah pernah memasuki lebih dari seribu perkampungan namun aku tidak menjumpai perempuan yang lebih terhormat dan terjaga melebihi perempuan di daerah Napolis, Palestina, tempat Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api. Selama aku tinggal di sana aku tidak pernah melihat perempuan di jalan saat siang hari kecuali pada hari Jumat. Pada hari itu para perempuan pergi ke masjid untuk ikut shalat Jumat sampai masjid penuh dengan para perempuan. Begitu shalat Jumat berakhir mereka segera pulang ke rumah mereka masing-masing dan aku tidak melihat satupun perempuan hingga hari Jumat berikutnya".

Dari Abdullah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya perempuan itu aurat. Jika dia keluar rumah maka setan menyambutnya. Keadaan perempuan yang paling dekat dengan wajah Allah adalah ketika dia berada di dalam rumahnya". (HR Ibnu Khuzaimah no. 1685. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, "Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah kecuali dengan izin suaminya." Beliau juga berkata, "Bila si istri keluar rumah suami tanpa izinnya berarti ia telah berbuat nusyuz (pembangkangan), bermaksiat kepada Allah Taala dan Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan siksa." (Majmu Al-Fatawa, 32: 281)

4. Memiliki Sifat Malu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan." (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.)

Kriteria ini juga semestinya ada pada setiap wanita. Contohnya adalah ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat. Cobalah perhatikan contoh yang bagus dari wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah Taala berfirman,

"Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya." (QS. Qashash: 23-24). Lihatlah bagaimana bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya. Namun coba bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!

Tidak cukup sampai di situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka tatkala datang untuk memanggil Musa ‘alaihis salaam; Allah melanjutkan firman-Nya,

"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.‘" (QS. Al Qashash : 25)

Ayat yang mulia ini,menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.

Amirul Mukminin Umar bin Khoththob rodiyallohu ‘anhu mengatakan, "Gadis itu menemui Musa ‘alaihis salaam dengan pakaian yang tertutup rapat, menutupi wajahnya." Sanad riwayat ini shahih.

5. Taat dan Menyenangkan Hati Suami

Istri yang taat pada suami, senang dipandang dan tidak membangkang yang membuat suami benci, itulah sebaik-baik wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Siapakah wanita yang paling baik?" Jawab beliau, "Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci" (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Begitu pula tempat seorang wanita di surga ataukah di neraka dilihat dari sikapnya terhadap suaminya, apakah ia taat ataukah durhaka.

Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,

"Apakah engkau sudah bersuami?" Bibi Al-Hushain menjawab, "Sudah." "Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?", tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, "Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu." (HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)

6. Menjaga Kehormatan, Anak dan Harta Suami

Allah Taala berfirman,

"Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada" (QS. An Nisa: 34).

Ath Thobari mengatakan dalam kitab tafsirnya (6: 692), "Wanita tersebut menjaga dirinya ketika tidak ada suaminya, juga ia menjaga kemaluan dan harta suami. Di samping itu, ia wajib menjaga hak Allah dan hak selain itu."

7. Bersyukur dengan Pemberian Suami

Seorang istri harus pandai-pandai berterima kasih kepada suaminya atas semua yang telah diberikan suaminya kepadanya. Bila tidak, si istri akan berhadapan dengan ancaman neraka Allah Taala.

Seselesainya dari shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,

"Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita." Mereka bertanya, "Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Disebabkan kekufuran mereka." Ada yang bertanya kepada beliau, "Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?" Beliau menjawab, "(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu." (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907). Lihatlah bagaimana kekufuran si wanita cuma karena melihat kekurangan suami sekali saja, padahal banyak kebaikan lainnya yang diberi. Hujan setahun seakan-akan terhapus dengan kemarau sehari.

8. Berdandan dan Berhias Diri Hanya Spesial untuk Suami

Sebagian istri saat ini di hadapan suami bergaya seperti tentara, berbau arang (alias: dapur) dan jarang mau berhias diri. Namun ketika keluar rumah, ia keluar bagai bidadari. Ini sungguh terbalik. Seharusnya di dalam rumah, ia berusaha menyenangkan suami. Demikianlah yang dinamakan sebaik-baik wanita.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Siapakah wanita yang paling baik?" Jawab beliau, "Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci" (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)


Wallohua’lam bishshowab

Semoga bermanfaat bagi setiap wanita dan semoga Allah memberi taufik untuk mengamalkannya.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : abatasa.co.id

Subhanallah, Inilah Keutamaan Seorang Wanita Dalam Islam

Akan jadi apa dunia ini tanpa kehadiran seorang wanita. Allah telah menciptakan pasangan yang sangat sempurna untuk manusia pertama yaitu Adam Alaihi Sallam.

Subhanallah, Inilah Keutamaan Seorang Wanita Dalam Islam

Pasangan yang dibuat dari tulang rusuknya yang menemani Adam di syurga maupun di dunia. Dengan adanya wanita, memiliki keturunan pun jadi bukan sebuah hal yang tidak mungkin lagi.

Hadirnya Islam sebagai agama Allah yang paling benar memang telah mengubah harkat dan derajat wanita. Jika sebelumnya pada zaman jahiliyah wanita itu sangat tidak berharga, bahkan memiliki seorang anak wanita merupakan sebuah aib bagi keluarga. Namun, dengan hadirnya Islam diri seorang wanita sungguh sangat dijaga. Berikut ini adalah beberapa hal keutamaan wanita dalam Islam yang sering dilupakan.

1. Wanita dalam Islam diibaratkan harta yang sangat berharga. Olehkarena itu diri seorang wanita haruslah dijaga dengan sebaik-baiknya. Disimpan dalam tempat yang paling aman dan paling baik. Islam mewajibkan wanita untuk mengulurkan jilbabnya hingga dada dan menutup semua auratnya. Hal tersebut menandakan bahwa Islam sangatlah menghargai dan menjaga kehormatan seorang wanita.

2. Dalam Islam ada kententuan bahwa seorang wanita haruslah taat pada suaminya. Bahkan seorang istri harus lebih memilih patuh pada suami dibanding kepada orang tuanya (dalam hal yang baik). Namun ingatkah kita bahwa seorang ibu wajib ditaati oleh anak-anaknya tiga kali melebihi pada bapaknya.

3. Wanita menerima warisan yang lebih sedikit daripada lelaki. Tapi harta tersebut benar-benar menjadi hak bagi dirinya sendiri dan tidak ada keharusan untuk diberikan kepada suami. Sedangkan suami jika mendapatkan warisan, ia wajib menggunakan harta tersebut untuk menghidupi anak dan istrinya.

4. Seorang wanita memang harus mengalami kehamilan dan bersusah payah untuk menjalaninya. Tapi Allah memberikan pahala yang amat besar bagi perjuangan tersebut. Bahkan Allah memberikan ganjaran syahid pada wanita yang meninggal saat melahirkan.

5. Seorang laki-laki di akhirat nanti akan dimintai pertanggung jawabannya atas istrinya, ibunya, anak perempuan dan laki-lakinya. Dengan kata lain, diri seorang wanita itu ditanggung oleh bapak, suami dan anak laki-lakinya.

6. Seorang wanita diperbolehkan untuk memasuki pintu syurga melalui pintu yang mana saja yang disukainya. Wanita tersebut cukup memenuhi 4 syarat yaitu: shalat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat pada suami dan menjaga kehormatannya.

Subhanallah, sungguh Allah sangat sayang pada makhluk bernama wanita. bersyukurlah jika engkau diciptakan sebagai seorang wanita.


Wallohua’lam bishshowab

Sumber : abatasa.co.id

Kenalkanlah Anak Anda Pada Allah Dengan Cara Sederhana

SUDAH seharusnya kita mengenalkan Allah pada anak sejak dini. Agar kelak, anak mampu mencintai Allah dengan segenap hatinya. Orang tua harus mengenalkan Allah Azza Wajalla dengan cara yang sesuai dengan pengertian dan dan tingkat pemikirannya.

Mengenalkan Allah pada Anak dengan Cara Sederhana

Diajarkan kepadanya:
• Bahwa Allah Esa, tiada sekutu bagi-Nya.
• Bahwa Dialah Pencipta segala sesuatu.
Allah-lah Pencipta langit, bumi, manusia, hewan, pohonpohonan, sungai dan lain-lainnya. Pendidik dapat memanfaatkan situasi tertentu untuk bertanya kepada anak, misalnya ketika bejalan-jalan di taman atau padang, tentang siapakah Pencipta air, sungai,bumi,pepohonan dan lain-lainnya, untuk menggugah perhatiannya kepada keagungan Allah.
• Cinta kepada Allah, dengan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah
untuknya dan untuk keluarganya.
Misalnya, anak ditanya: Siapakah yang memberimu pendengaran, penglihatan dan akal? Siapakah yang memberimu kekuatan dan kemampuan untuk bergerak? Siapakah yang memberi rizki dan makanan untukmu dan keluargamu? Demikianlah, ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang nyata dan dianjurkan agar cinta dan syukur kepada Allah atas nikmat yang banyak ini.

Metode ini disebutkan dalam Al Quran, dalam banyak ayat Allah menggugah minat para hamba-Nya
agar memperhatikan segala nikmat yang dikaruniakan-Nya, seperti firman-Nya,
"Tidakkah kamu perhatian sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentinganmu apa yang di
langit dan apa yang di bumi dan menyempumakan untukmu nikmatnya lahir dan batin," (QS. Luqman : 20).
"Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepadamu dari langit dan bumi," (QS. Fathir :3).

Dan dengan rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepadan-Nya," (QS. Al Qashash : 73).

Sumber : hijabers.abatasa.co.id

Allah Mengampuni Segala Dosa-Dosa Hambanya

SESUNGGUHNYA kesedihanku —tatkala aku renungkan— sangatlah besar, selubungku amatlah tebal, dan kemurungan menguasaiku. Selama ini aku menjalani kehidupan dengan permohonan, sedangkan kelapangan bagiku jauh untuk disegerakan.
 Allah Mengampuni Segala Dosa
Aku telah mendengar dan melihat, aku telah yakin dan mengerti siapa yang telah Engkau beri pujian dan pertolongan, serta siapa yang telah Engkau segerakan jalan keluar baginya. Lalu, Engkau membersihkan mereka dari segala noda, Engkau pastikan kepadanya belas kasih dan rasa sayang-Mu, serta kerinduan mereka kepada-Mu.
Jika saja kalbuku menunjukkan kesedihan yang begitu mendalam sesungguhnya aku menjadi seperti itu, karena aku memang begitu terjepit dan keletihan. Aku meminta sesuatu tetapi tidak diberi, sedang aku melihat berbagai macam dan Karya-karya-Mu yang menunjukkan melimpahnya tangan-tangan rahmat-Mu, dan langgengnya kebaikan-Mu yang tak pernah lekang, dan Engkau tidak membuat jiwaku patuh dengan suka rela begabung bersama maqam-maqam yang telah mereka capai.
Aku hanya meminta-Mu —dengan apa yang telah Engkau karuniakan kepada mereka— agar Engkau memasukkan aku bersama-sama mereka dalam petunjuk yang lurus (taufiq) yang sama. Betapa beruntungnya hamba yang Engkau beri pertolongan, segera Engkau sucikan dia dari semua kekotoran dosa di dalam kalbunya. Engkau memastikan bagi hamba itu untuk memiliki penghargaan yang agung dan pemihakan yang tulus (husnaddi’ayah) terhadap-Mu. Juga Engkau karuniai di dalam kalbunya kecintaannya yang murni (shidq al-mahabbah); kerinduan mendalam kepada-Mu dan pertemuan (liqa’) dengan-Mu; berikut rasa takut (khauf) dan kegelisahan yang panjang, penyesalan dan kepekaan kalbunya atas pengabaian dan dosa-dosa yang dia lakukan di masa lalu. Kalbunya begitu tersentuh dan merasakan keintiman berada di dekat-Mu, sehingga memperoleh ektase mitis dengan bermunajat kepada-Mu, dia merasa khawatir jika ada penghalang antara dia dan Engkau.
Maka, sungguh indah kehidupan yang dia jalani pada sisa hidupnya, kecemasan dan perasaannya yang meluap-luap (rughbah) menguasainya, kecintaan dan kerinduannya, — kedua-duanya semakin meningkat, meninggi bersama-sama dengan persepsinya dan terlihat pada dirinya.
Aku telah mencurahkan segala upaya untuk taqarrub kepada-Mu. Di sisi lain seorang hamba telah Engkau beri pertolongan tanpa kekurangan memasuki Kerajaan-Mu atas izinMu. Sementara Engkau tinggalkan aku dalam keadaan fakir yang mengiba, namun pertolongan-Mu kepadaku tidak mengurangi kesempurnaan-Mu. Maka, segerakanlah kebahagiaan bagiku karena penangguhan terkabulnya perminraanku (ijabati) membuatku merasa sedih, dan aku tidak tahu kapan kelapangan bagiku akan tiba?!
Aku merasa gelisah atas pembangkangan yang telah aku lakukan (i’radhi) di masa yang lalu; dan yang menyentuh nuraniku serta mendorong kalbuku luluh adalah pengamatanku (nazhri) akan “Para Pekerja-Mu” yang silih berganti dengan sungguh- sungguh mencari karamah-Mu, mengusung harapan yang tinggi dalam pencapaian Mawahib [karunia yang didapatkan langsung dan-Mu, pent.], dan merasakan nikmat kerinduan yang besar terhadap Diri-Mu. Mereka berpaling dan kehidupan dunia, lebih memilih mencari kedudukan yang tinggi (ma’ali) berada dekat dengan-Mu dengan penuh kesungguhan, tidak ada lagi ketergantungan dalam jiwa-jiwa mereka kepada yang selain dari-Mu. Mereka menjadi mulia bersama-Mu di antara hamba-hamba (‘abid) yang taat.
Maka, aku ini hamba-Mu juga, sebagaimana mereka juga adalah hamba-hamba-Mu yang lebih berbakti. Aku adalah seorang yang fakir dalam kesempitan, sebagaimana mereka yang pernah mengalami saat-saat keterpurukan (su’ul hat). Lalu Engkau menyambut doa mereka dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka, kemudian Engkau menyelamatkan mereka dari moral-moral yang rendah dan amal-amal yang buruk.
Maka, sertakanlah hamba-Mu yang fakir yang penuh harap ini bersama-sama “Para Pekerja-Mu” yang kuat-kuat itu dan orang-orang yang bertobat (al-munibin) yang kembali kepada-Mu, semoga Engkau tidak menunda pemberian nikmat itu walau sekejap mata. Karena, perintah-Mu jika menghendaki sesuatu hanya dengan berfirman: “Kun,” (Jadilah!). Maka, terjadilah ia.
Maka perintahkanlah kepada rasa takut, getir, gentar dan gusar agar selalu berada dalam kalbuku. Perintahkan kepada cinta (hubb) agar mengalahkan semua kegundahan-kegundahanku, dan kepada anggota jasmaniku, agar terbiasa bergerak dengan cepat, kepada hawa nafsuku agar padam dan tertunduk, sampai Engkau membuatku merasakan kebahagiaan dengan nikmatnya ketaatan, kembali ke fitri dengan nikmat abadi di sisi-Mu, dan penglihatan akan Keindahan-Mu.
Duhai Tuhan, Sembahanku dan duhai Rabb, pembimbingku, duhai tempatku mengadu dan tempat aku berkeluh kesah dengan ketidakberdayaanku Aku hanya bisa hidup dengan pengharapan akan Kemurahan-Mu. Andai tidak karenanya, tentu aku takut karena kantung empeduku akan pecah, dan kalbuku men jadi pilu, setiap kali aku teringat akan kelancanganku kepada-Mu, dan atas kenekatanku melakukan apa yang telah Engkau larang. Dan kalbuku tidak patah sernangar, setiap kali Engkau sadarkan aku akan Keagungan-Mu.
Hampir saja keputusasaan menyumbat akalku, nyaris bumi yang luas ini menjadi sempit dan menjepitku, jika aku tidak bisa mengelakkan diri berbalik di Mata-Mu, dengan mendapatkan kebencian dan kemurkaan.
Inilah ketakutanku ... bersama-sama dengan kekasaran kalbuku hampir saja membuat akalku menjadi tak berfungsi. Maka bagaimana nanti Malakul maut (rusuluka) datang membawa “kabar gembira” dalam kondisiku seperti itu menjelang kematian? Apabila demikian, ketakutanku menjadi beralasan, dan putus sudah harapanku. Asaku menjadi sia-sia dan kalbuku merasakan kekecewaan. Penyesalan dan keputusasaanku semakin bertambah, dan tidak ada Penyelamat atau Pemberi syafa’at  bagiku. Aku tidak bisa kembali lagi ke dunia di mana aku melawan perintah-Mu, sehingga aku dapat menaati-Mu lagi dan tetap berusaha mendapatkan nidha-Mu.
Itu sangat jauh untuk dapat tenjadi! Tidak ada lagi tempat kembali (marji’) dan tidak tempat tinggal di akhirat pasca-kematian (musta’tab). Maka, pandanglah aku dengan rahmat-Mu — yang sebenarnya aku tidak patut untuk itu. Atau segeralah menerima tobatku dan meridhainya, sebelum ajal menjemputku, karena sungguh aku begitu mengharapkannya. Aku tidak merasa tenang sampai Engkau mengaruniakan itu atas diriku. Namun, lebih-lebih lagi besar keinginanku jika Engkau mengaruniakan ma’rifat tentangMu, dan sanksi-Mu belum sampai pada taraf merampas iman kepada-Mu, serta Engkau terus melanggengkan hasratku yang tinggi kepada-Mu.
Maka, semoga dengan kemurahan Engkau tetapkan untuk menangguhkan —sebagai bentuk sanksi-Mu kepadaku— memutus harapanku dari-Mu. Tidakkah Engkau akan mewujudkan asaku, dan menyegerakan kelapangan bagiku?!
Sumber : sufinews.com

Bawalah Hartamu Sampai Mati Dengan Cara Sebgai Berikut

emas
Haji Usman. Pemilik salah satu usaha batik dan olahan tekstil terkemuka di Yogyakarta, memang dikenal atas kedermawanannya, seakan harta telah begitu tak berharga baginya. Seakan dunia telah begitu hina di matanya.
Ringan baginya membuka kotak tabungannya, gampang baginya merogoh kantong simpanan dan seakan tanpa beban dia mengulur bantuan.
Inilah mungkin sosok nyata orang yg menganggap dunia di tangannya dan akhirat di hatinya.
Maka beberapa orang pengusaha muda yg bersemangat mendatangi beliau.

“Ajarkan pada kami, Ji,” kata mereka, “bagaimana caranya agar kami seperti haji Usman. Bisa bisnis maju sukses, tidak cinta pada harta dan tidak sayang pada kekayaan… Hingga seperti haji Usman, bersedekah terasa ringan”.
“Wah”, sahut Haji Usman tertawa,
“Antum salah alamat!”
“Lho?”…
“Lha iya. Kalian datang pada orang yg salah
Lha saya ini SANGAT SAYANG DAN MENCINTAI HARTA SAYA.
Saya ini sangat mencintai ASET yg saya miliki ”
“Lho?”..
“Kok lho, sebab saking cinta dan sayangnya, SAMPAI-SAMPAI SAYA TIDAK RELA MENINGGALKAN HARTA SAYA DI DUNIA INI.HARTA SAYA AKAN SAYA BAWA MATI DIKUBUR DENGAN HARTA BISNIS SAYA.
Saya itu TIDAK MAU BERPISAH dengan kekayaan saya.
Makanya sementara ini saya titip-titipkan dulu
*TITIP* pada Masjid,
*TITIP* pada anak yatim,
*TITIP* pada fakir miskin,
*TITIP* pada pejuang fii sabilillah.
*TITIP* pada yayasan/ baitul maal.
*TITIP* pada guru2 Agama & karyawan yg rajin Ibadah
*TITIP* pada saudara dan karyawan yg dirawat sakit.
Alhamdulillah masih ada yg berkenan mau dititipi, saya senang sekali. Alhamdulillah ada yg sudi diamanati, saya bahagia sekali.

Pokoknya DI AKHIRAT NANTI MAU SAYA AMBIL LAGI TITIPAN TITIPAN SAYA
Saya sdh bekerja keras puluhan tahun maka ingin kekayaan saya itu dapat saya nikmati berlipat-lipat di alam kubur dan di akhirat nanti”.
Maka siapa bilang harta tdk dibawa mati….?
Harta itu dibawa mati….!!! Caranya ? … JANGAN BAWA SENDIRI… Minta tolong dibawakan oleh Fakir miskin, anak yatim, orang-orang yg berjuang di jalanNYA, yayasan/baitul maal….dll… .dll
karena anak dan keluarga sy cuma kasih kain putih tok.
Sumber : santri.net

Ketika Iblis Ingin Bertaubat

iblisDikisahkan bahwa Iblis pernah mendatangi Nabi Musa as. Ia berkata: 
“Hai Musa, engkau adalah manusia yang dipilih Allah untuk menjadi Rasul dan diajak berbicara oleh Allah. Dan aku adalah salah satu dari makhluk-makhluk Allah. Aku telah berbuat dosa dan aku ingin bertaubat. Maka mintakan bagiku syafaat dari Tuhanku agar DIA menerima taubatku.”
“Baiklah.” Kata Nabi Musa as.
Ketika Nabi Musa naik ke gunung dan berbicara dengan Allah SWT, kemudian saat ia akan turun. Allah SWT berfirman, “Sampaikanlah amanat yang diberikan padamu!
”
Nabi Musa as pun teringat permintaan Iblis dan berkata, “Ya Tuhanku, hamba-Mu Iblis ingin bertaubat.“
Allah pun mewahyukan pada Nabi Musa as, “Hai Musa, aku kabulkan permintaanmu, perintahan ia untuk sujud kepada kubur Adam maka Aku akan menerima taubatnya.”
Saat Nabi Musa as bertemu Iblis, beliau berkata: “Aku telah memenuhi permintaanmu wahai iblis, kau hanya perlu bersujud sekali saja kepada kuburan Adam,maka taubatmu akan diterima.”
Mendengar hal ini timbul kemarahan Iblis dan sifat sombongnya, ia berkata: “Aku tidak sudi sujud kepadanya ketika ia hidup, bagaimana aku dapat sujud kepadanya setelah ia mati?!”
Lalu Iblis berkata, “Hai Musa, kau memiliki hak atasku karena engkau telah memintakan syafaat bagiku kepada Tuhanmu. Ingatlah aku adalah tiga hal,agar aku tidak dapat membinasakanmu di dalamnya.
1. Ingatlah aku ketika engkau marah, sebab ketika itu ruhku ada dalam hatimu, mataku ada dalam matamu, dan aku mengalir dalam aliran darahmu. Ingat aku ketika kau marah, sebab jika seorang marah maka aku meniup ke dalam hidungnya sehingga ia tidak lagi mengetahui apa yang ia lakukan.
2. Ingatlah pula aku ketika kau berhadapan dengan pasukan musuh, sebab aku mendatangi manusa ketika dihadapkan dengan pasukan musuh dan aku ingatkan ia mengenai istrinya, anaknya, keluarganya sehingga ia kabur dari peperangan.
3. Dan hati-hati, jangan kau duduk bersama seorang wanita yang bukan mahram. Sebab aku adalah utusannya kepadamu dan utusanmu kepadanya. Aku akan terus menerus berada bersama kalian berdua hingga aku dapat memfitnahmu dengan sebab wanita itu atau aku memfitnahnya disebabkan karna dirimu.”
(Diterjemah bebas dari kitab Ihyaulumiddin karya Imam Ghozali)
Sumber : santri.net

Jumat, 21 Oktober 2016

Inilah Reaksi Ketika Wajah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Diludahi Oleh Musuh

Di masa perang Khandaq, umat Islam pernah ditantang duel oleh Amr bin Abd Wad al-Amiri, dedengkot musyrikin Quraisy yang sangat ditakuti. Nabi bertanya kepada para sahabat tentang siapa yang akan memenuhi tantangan ini.
 
Para sahabat terlihat gentar. Nyali mereka surut. Dalam situasi ini Sayyidina Ali bin Abi Thalib maju, menyanggupi ajakan duel Amr bin Abd Wad. Melihat Ali yang masih terlalu muda, Nabi lantas mengulangi tawarannya kepada para sahabat. Hingga tiga kali, memang hanya Ali yang menyatakan berani melawan jawara Quraisy itu.

Amr bin Abd Wad menanggapinya dengan tertawa mengejek. Namun faktanya apa, selama perkelahian nasib mujur tetap ada di tangan Ali bin Abi Thalib. Usai paha kekarnya disabet pedang oleh Ali, Amr bin Abd Wad pun tumbang ke tanah. Kemenagan Ali sudah di depan mata. Hanya dengan sedikit gerakan saja, nyawa musuh dipastikan melayang.

Dalam situasi terpojok Amr bin Abd Wad masih menyempatkan diri membrontak. Tiba-tiba iapun meludahi wajah Ali bin Abu Thalib. Menaggapi hinaan ini, Ali justru kian pasif. Ali menyingkir dan mengurungkan niatnya untuk membunuh hingga beberapa saat.

”Saat dia meludahi wajahku, aku marah. Aku tidak ingin membunuhnya karena hawa nafsuku. Aku tunggu sampai lenyap kemarahanku dan membunuhnya semata-mata karena Allah SWT,” kata Ali menjawab kegelisahan sebagian sahabat atas sikapnya.

Meskipun Amr bin Abd Wad akhirnya gugur di tangan Ali, proses peperangan ini memberikan beberapa pelajaran. Perjuangan dan pembelaan Islam harus didasarkan pada ketulusan iman, bukan kebencian dan kemarahan. Sahabat Rasulullah yang kelak menjadi khalifah keempat ini juga menjernihkan bahwa semangat karena Allah dalam berjuang adalah satu-satunya landasan, mengalahan nafsu keinginan di balik ego pribadi dan golongan.
Wallohua’lam bishshowab
Sumber : madinatuliman.com

Penting Dan Harap Di Ketahui, Inilah Slogan Sang Iblis : “Akulah Yang Terbaik”

Teringat sebuah kisah yang di jabarkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran tentang sebab terkutuknya Iblis. Yaitu disaat iblis tidak mematuhi perintah Allah SWT untuk bersujud. Maka bersama itu juga iblis menjadi makhluk pertama yang terkutuk.  Ada yang perlu dicermati dibalik penolakan iblis untuk sujud, yang karenanya iblis menjadi terkutuk.
Yaitu karena iblis merasa lebih baik dari Nabi Adam AS dan berkata “Ana Khoirun Minhu” (Aku lebih baik dari Adam). Disaat iblis menojolkan ke-AKU-anya itulah awal bencana untuk Iblis.

Bisa kita membuat suatu gambaran akan sebuah cara menjalani hidup iblis yang salah yang terbaca pada masa kehidupan Nabi Adam dengan iblis. Yaitu cara hidup yang mengikuti faham AKU.

Faham AKU adalah faham iblis yang kemuliaan Islam sangat menentangnya. Faham AKU adalah faham kesombongan. Dan inilah yang pernah di isyaratkan Nabi Muhammad SAW bahwa yang menganggap dirinya bersih adalah yang terjerumus dalam jurang kehinaan dan tidak ada yang bisa mengangkatnya kecuali melawan hawa nafsunya yang senang membanggakan diri.

Saat ini kita harus lebih banyak berdoa untuk diri kita sendiri dan saudara-saudara kita yang diam-diam telah menganut fahan AKU ini. Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dan mereka dari terjerumus dalam kehinaan faham AKU ini. Karena saat ini kita sungguh dihadapkan pada suatu suasana yang telah menyuburkan faham AKU ini.

Yang telah di ajarkan Islam, jika ada pengangkatan pemimpin atau orang-orang yang akan mewakili kaum muslimin dalam sebuah tatanan atau tugas besar, yang ada dalam Islam adalah Tazkiyah (rekomendasi) yang di berikan kepada seorang calon pemimpin dan wakil rakyat dari kaum muslimin yang mempunyai wawasan agama dan ketaqwaan.

Artinya penilain baik dan tidaknya seorang calon pemimpin dan wakil rakyat adalah di tetuntukan oleh khalayak yang beriman dan mempunyai wawasan tentang tugas seorang pemimpin dan wakil rakyat. Inilah hal terpenting yang membedakan antara politik Islam dan bukan Islam. Di dalam Islam ada Syuuro yang sering diterjemahkan oleh sebagian orang dengan demokrasi. Padahal sesungguhnya sangat berbeda antara demokrasi dengan Syuuro. Islam tidak mengenal demokrasi karena demokrasi tidak akan menghantarkan kepada pemilihan pemimpin yang benar. Syuroo dalam memilih pemimpin adalah memilih pemimpin oleh orang-orang yang mampu mencemati, memilih, mempelajari dan memahami tugas pemimpin. Sedangkan demokrasi adalah memilih pemimpin oleh semua orang yang mampu berfikir cerdas ataupun yang tidak mampu termasuk orang pikun dan lemah akalpun sama suaranya dengan profesor yang soleh. Barangkali andapun pernah melihat di sebuah pesta demokrasi seorang kakek tua, tuli, kabur penglihatan, sering pikun dan tidak kenal calon A dan calon B harus masuk TPS memilih seorang pemimpin.

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah bersabda ” Janganlah engkau berikan kepemimpinan kepada orang yang memintanya darimu”. Begitu juga kisah Sayyidina Umar bin Khottob yang ingin mengangkat seorang gubernur, beliau minta kepada tokoh-tokoh yang ada untuk merekomendasikan orang-orang yang layak menjadi gubernur. Dan disaat ada orang yang mengajukan satu orang, sayyidina Umar bertanya “ Apa alasanmu memberi rekomendasi terhadap orang itu? Dijawab,” kami saksikan ia sangat rajin di masjid”. Kemudian sayyidina Umar bertanya “ apakah engkau pernah berjual beli dan pinjam meminjam denganya? ” Di jawab “belum ”. Kata sayyidina Umar,” rekomendasimu tidak di anggap, sebab pemimpin dan wakil rakyat harus sudah teruji kejujuranya kepada Allah dan kejujurannya kepada sesama, belum cukup untuk mengangkat seorang pemimpin yang hanya terlihat baik di masjid saja, begitu juga yang tidak kenal masjid tidaklah pantas menjadi pemimpin dan wakil rakyat”.

Riwayat yang kita dengar dari Rasulullah dan Sayyida Umar bin Khottob adalah sebuah pendidikan bagi kita disaat memilih pemimpin dan wakil rakyat. Sekaligus untuk menjauhkan para calon pemimpin dan wakil rakyat dari faham AKU yang menjadikan seorang hamba di kutuk dan di murkai oleh Allah SWT.

Saat inipun kita harus tanggap dan cerdas melihat disekitar kita, begitu banyaknya propaganda faham AKU memenuhi jalan-jalan. Kita sering dikejutkan oleh gambar orang yang tidak pernah kita kenal tampil di jalan-jalan dan mengatakan beragam ungkapan yang menunjukkan bahwa faham AKU nya iblis telah di anut oleh bangsa manusia. Kami tidak mengatakan bahwa mereka tidak layak dipilih akan tetapi kami hanya mencermati bahwa cara memilih calon pemimpin dan wakil rakyat yang benar, bukanlah dengan cara menyuburkan faham AKUnya iblis. Dan penganut faham AKU tidaklah pantas untuk dipilih. Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari faham AKU nya sang iblis ini.

Wallahu  a’lam bissawab.
Ustadz Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya)
Sumber : madinatuliman.com

Peristiwa Dikala Shubuh : Mengucurnya Darah Sang Amirul Mukminin Umar Bin Khattab

“Demi waktu subuh”, begitulah Allah Swt bersumpah dalam Al-Quran. Subuh tatkala fajar menyingsing dan  matahari bersiap-siap menampakkan dirinya merupakan waktu yang penuh dengan keberkahan. Udara segar, langit kemerahan, pikiran yang cerah merupakan kenikmatan tersendiri di setiap waktu subuh.
 
Namun tak teruntuk subuh itu. Ketika muadzin mengumandangkan adzan, dengan berbondong-bondong para shahabat dan sebagian tabi’in memenuhi masjid. Mereka berlomba-lomba menempati barisan yang paling depan. Dan ketika dua shaf penuh dengan jama’ah, salat pun dimulai.

Sang Amirul Mukminin dengan suaranya yang berwibawa membaca Surat Al-fatihah dengan penuh khusyu’. Kemudian dilanjutkan dengan Surat An-Nahl atauYusuf. Namun tak sampai ia menamatkan bacaannya, beberapa tusukan tajam mengenai perutnya. Ia tak kuasa menahan sakit kucuran darahnya, ia terjatuh dan mengisyaratkan sahabat Abdur Rahman bin Auf R.A. untuk menggantikan posisinya. Lalu sahabat Abdur Rahman bin Auf mengimami dengan salat yang ringan.  Surat Al-Kautsar rakaat pertama dan An-Nashr rakaat kedua. Para jama’ah yang berada di shaf bagian depan mengetahui apa yang terjadi, sedang mereka yang di belakang mengucap Subhanallah mengira sang imam lupa akan bacaannya.

Ketika salat telah rampung diselesaikan, Sang Amirul Mukminin bertanya kepada shahabat Abdulloh Ibnu Abbas perihal siapa yang menikamnya, Ibnu Abbas menjawab “Anak Mughiroh”, yang berkinayah Abu lukluah Al-Majusi laknatullohi alaih. Para shahabat dan tabi’in tak pernah merasakan sebuah musibah di kala subuh kecuali waktu itu. Sebagian dari mereka beranggapan sahabat Umar bin Khattab ridlwanullohi alaih akan baik-baik saja. Sebagian yang lain mengkhawatirkan keadaannya.

Selepas ia salat subuh dengan keadaan semampunya, ia disuguhi segelasNabidz, semacam rendaman air kurma beberapa hari, untuk mengetahui seberapa parah lukanya dan ternyata Nabidz pun mengucur dari perut sang Amirul Mukminin. Lalu ia meminum susu dan hasilnya sama tetap mengucur dari lambungnya. Semua orang yang mengetahui perihal tersebut tahu bahwa sang khalifah tak akan mampu bertahan hidup lama lagi.

Para sahabat lalu memintanya untuk berwasiat, mulai dari kesan persahabatannya dengan Nabi, uang baitul mal, hingga ia menyuruh anaknya Abdullah bin Umar untuk pergi ke rumah Sayyidah Aisyah, “Katakan kepadanya(Sayyidah Aisyah): Umar menitipkan salam untukmu dan jangan kau sebut aku dengan Amirul Mukminin karena hari ini aku tidak bisa menjadi pemimpin bagi orang-orang mukmin. Dan mintalah izin kepadanya agar aku bisa disemayamkan dengan kedua sahabatku.”

Sayyidah Aisyah menangis tatkala Abdullah bin Umar mengutarakan apa yang diperintahkan ayahnya, “Sungguh aku sangat menginginkan diriku dikubur bersama ayah dan suamiku kelak, tapi hari ini aku tak menginginkannya kembali.”

Dengan rasa yang penuh kelegaan, bahagia campur sedih Abdullah melangkahkan kaki pulang. Sesampainya ia di rumah, sang ayah yang sedang berbaring menahan perih meminta untuk didudukan dan bertanya kepada putranya tentang permintaan terakhirnya. “Sesuai apa yang engkau inginkan wahai Amirul Mukminin” ucap sang putra. Alangkah bahagianya sahabat Umar dengan bibir tesungging ia bertahmid, “Segala puji bagi Allah, tak ada sesuatu yang paling penting bagiku ketimbang beristirahat selamanya di samping kedua sahabatku. Ketika datang ajalku, bawalah aku dan kembalilah meminta izin kepadanya (Sayyidah Aisyah). Jika ia mengamini, kuburkan aku bersama dua sahabatku dan jika tidak, bawalah aku ke Baqi’; makam orang-orang mukmin.”

Tiga hari setelah penikaman itu Sang Amirul Mukminin menghadap ke haribaan Allah SWT, lantas Abdullah bin Umar pun  melaksanakan wasiat sang ayah untuk meminta izin kedua kalinya kepada Sayyidah Aisyah. Dan akhirnya sang Khalifah yang pertama kali diberi gelar Amirul Mukminin, pencetus pengumpulan Al-Quran untuk dijadikan satu mushaf, mufti yang berfatwa bahwa salat tarawih 20 rakaat dan berjamaah adalah sebaik-baiknya bid’ah, sang mertua Rasul, sahabat karib Nabi, pemimpin yang penuh kejuhudan, dialah Umar Bin Khattab R.A dikebumikan di samping kedua sahabatnya, Nabi Muhammad Saw dan Sayyidina Abu Bakar R.A.
Sumber : musliminfo

Larangan Berprasangka Buruk Dalam Islam

 Dalam kehidupan sehari – hari kita sering kali menduga – duga akan berbagai macam perbuatan orang lain. Dan mayoritas dugaan yang kita lakukan kepada orang lain biasanya adalah dugaan atau pun prasangka – prasangka yang yang tidak baik. Prasangka perselingkuhan, prasangka pencurian, prasangka perbuatan syirik dll. Merupakan beberapa contoh prasangka buruk yang mungkin pernah kita lakukan terhadap orang – orang yang ada di sekitar kehidupan kita.

Dalam agama Islam, berprasangka buruk disebut dengan istilah “su'udzon”. Agama Islam sangat melarang perbuatan su'udzon. Hal ini dikarenakan su'udzon dapat menimbulkan banyak sekali dampak negatif baik bagi pelakunya atau pun bagi orang yang menjadi korban su'udzon tersebut.

Apa sajakah dampak negatif yang dapat disebabkan oleh perbuatan suuzan ini? Berikut rincian singkatnya telah kami sajikan untuk Anda :


Kenapa Agama Islam Menghimbau Untuk Tidak Berprasangka Buruk? Karena....

Larangan Berprasangka Buruk

Menggangu Kesehatan Jiwa dan Mental
Dampak negatif prasangka buruk yang pertama adalah dapat menggangu kesehatan jiwa dan mental. Menurut sebuah penelitian, hidup manusia akan sangat bergantung kepada apa yang dipikirkannya. Ketika pikirannya dipenuhi dengan pikiran – pikiran positif, maka positiflah kehidupannya. Akan tetapi, ketika pikirannya dipenuhi dengan pikiran – pikiran negatif, maka negatiflah kehidupannya. Dan parahnya lagi, pikiran negatif juga dapat membuat jiwa dan mental yang kemungkinan bersih menjadi rusak dan dipenuhi dengan hal – hal yang tidak baik.

Dapat Merusak Diri Seseorang
Ketika kita berprasangka buruk terhadap seseorang, secara tidak langsung kita akan meluangkan banyak waktu untuk berpikir terhadap diri orang tersebut. Dan ketika hal ini terjadi, secara tidak langsung kita akan menghabiskan waktu kita hanya untuk perbuatan yang sia – sia. Bahkan, tidak jarang kita menjadi terlena sehingga berbagai macam aktivitas penting yang seharuskan kita lakukan tepat waktu seperti istirahat atau pun makan menjadi terkendala. Dampak akhirnya, tubuh pun akan menjadi lemah atau bahkan terserang berbagai macam penyakit.

Membuat Manusia Menjadi Tidak Produktif
Seperti yang telah disebutkan di poin yang sebelumnya, ketika kita memikirkan seseorang, secara tidak sadar, kita akan meluangkan banyak waktu berharga kita untuk perbuatan yang sia – sia. Dampaknya, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal – hal yang menghasilkan pun menjadi terbuang sia – sia, sehingga pada akhirnya produktivitas hidup kita menjadi berkurang.

Hidup Menjadi Sulit Bahagia
Salah satu kunci kebahagiaan adalah dengan membuat atau pun sekedar melihat orang – orang yang ada di sekitar kita bahagia. Maka dari itu, ketika kita sering berprasangka buruk kepada orang – orang yang ada di sekitar kita, dapat dipastikan peluang kita untuk bisa merasakan bahagia akan menjadi semakin kecil dan terus berkurang.

Dapat Memicu Berbagai Macam Penyakit
Pikiran merupakan inti dari setiap hal yang ada dalam tubuh manusia. Menurut sebuah penelitian, otak yang sering digunakan untuk berpikiran negatif, cenderung mendorong tubuh untuk melakukan aktivitas – aktivitas yang negatif. Tidak hanya itu, otak yang sering dipakai untuk berpikiran negatif kabarnya juga dapat membuat sistem imun dalam tubuh menjadi lemah sehingga tubuh menjadi lebih rentan terserang penyakit.

Itulah beberapa alasan yang melandasi Agama Islam menyatakan larangan beprasangka buruk kepada para pengikutnya. Perlu diingat, kehidupan manusia akan sangat dipengaruhi oleh apa yang dipikirkannya. Oleh karena itu, agar kehidupan kita senantiasa membaik, selalu jaga dan rawat pikiran kita agar dapat menghasilkan perbuatan dan juga hasil yang positif dan juga bermanfaat bagi kehidupan orang lain dan diri kita sendiri.

Sumber : beritaislamterkini.blogspot.co.id

Penting Dan Harap Diketahui, Inilah 5 Hal yang Dapat Mengeluarkan Kita Dari Islam

 Selama ini mayoritas umat muslim hanya mengetahui hal yang mengeluarkan kita dari islam hanya ada satu yaitu perbuatan Syirik. Padahal jika dikaji secara lebih mendalam, sejatinya ada banyak sekali perbuatan manusia yang dapat engeluarkan kita dari Islam. Bahkan mungkin beberapa di antaranya pernah kita lakukan tanpa kita sadari sebelumnya. Apa sajakah hal–hal yang dapat menjadikan kita keuar dari isalm..? 
Berikut beberapa di antaranya telah kami rangkum untuk Anda :

5 Hal yang Dapat Membatalkan KeIslaman Kita

1. Perbuatan Syirik
Hal pertama yang dapat mengeluarkan keislaman seseorang adalah melakukan perbuatan syirik. Syirik merupakan perbuatan manusia yang mengindikasikan adanya kepercayaan kepada hal–hal selain Allah SWT. Dalam praktinya sehari–hari ada dua macam syirik yang dapat dilakukan oleh manusia yaitu syirik besar dan syirik kecil.

Syirik besar merupakan perbuatan secara terang–terangan yang mengkui adanya Tuhan selain Allah SWT, sedangkan syirik kecil merupakan perbuatan syirik yang terlaksana sebagai dampak penggunaan berbagai macam benda dengan persepsi yang salah dan berlebihan seperti penggunaan jimat atau pun cincin tertentu untuk menangkal sial, dll.

2. Murtad
Hal ke dua yang dapat mengeluarkan keIslaman seseorang adalah murtad. Murtad adalah aktivitas pernyataan yang dilakukan oleh seorang muslim bahwa ia telah tidak lagi mengikuti ajaran Agama Islam. Dalam praktiknya, aktivitas murtad dapat dibedakan menjadi tiga yaitu Murtad Qawli (murtad yang dilakukan dengan pernyataan langsng secara lisan) ,Murtad Fi’li (murtad yang dilakukan tanpa pernyataan secara langsung, namun ia telah melaksanakan berbagai macam amalan perbuatan agama selain Islam), dan Murtad I’tiqadi (yaitu murtad yang dilakukan hanya dengan berniat di dalam hati atau pun aqidah bahwa ia akan segera meninggalkan ajaran Islam untuk kemudian memeluk ajaran agama lain di luar Islam).

3. Meragukan Kekafiran Orang Lain
Sebagai umat Islam, kita sudah seharusnya meyakini jika satu – satunya agama yang benar dan juga layak untuk dipeluk adalah ajaran Agama Islam. Agama di luar ajaran Islam merupakan agama yang salah dan bukan merupakan Agama yang diridhai oleh Allah SWT. Maka dari itu, sebagai umat Islam kita harus meyakini bahwa pemeluk agama lain selain agama Islam (yang telah mengenal atau pun dikenalkan dengan Islam, namun tidak mau memeluk Islam) merupakan orang yang kafir.

4. Tidak Menjalankan Hukum yang Telah Ditetapkan Allah
Sebagai pemeluk ajaran Agama Islam, setiap umat muslim seharusnya mematuhi semua ajaran dan juga peraturan hukum yang ada di dalam agama Islam tanpa terkecuali. Umat Islam seharusnya mengedepankan Al-Qur’an dan juga Al-Hadits sebagai pedoman utama dalam menetapkan hukum, baru kemudian menggunakan hukum – hukum buatan manusia yang berasal dari berbagai macam kajian – kajian yang telah dilakukan sebelumnya.

5. Membenci Sunah Rasul
Ketika seseorang menyatakan bahwa ia merupakan pemeluk agama Islam, maka secara terang – terangan ia telah menyatakan bahwa ia mempercayai dan juga mencintai semua ajaran islam baik yang terkandung di dalam Al-Qur’an atau pun Al-Hadits yang berisi sunah – sunah rasul tanpa terkecuali. Oleh karena itu, ketika seseorang membenci sunah Rasul, maka dapat dipastikan ia telah mengingkari kalimat syahadat dan telah keluar dari agama Islam.


Wallohua’lam bishshowab

Itulah 5 hal yang dapat mengeluarkan seseorang dari islam. Semoga Allah menajga kita semua dari hal-hal yang dapat mengelurkan kita dari islam.

Sumber : beritaislamterkini.blogspot.co.id

Diberdayakan oleh Blogger.