Tanda Orang Yang Sukses

Ketika membaca surah Ali Imran ayat 185 dan terjemahannya, ada beberapa hal muncul di benak untuk kita jadikan sebagai bahan renungan. Allah berfirman yang artinya:

Inilah Rahasia Di Balik Berteman Dengan Orang Buruk

Islam mengatur kehidupan umat manusia dengan sangat baik. Islam memberikan petunjuk secara paripurna dengan cara yang sangat sempurna. Islam mengatur seluruh persoalan, pun yang dianggap tidak penting bagi pandangan hidup orang kekinian.

Ketika Inggris Mengidolakan Dunia Islam

Tanpa orang-orang Islam, mungkin tak akan ada gula dan Shakespeare di Inggris. Jerry Brotton dalam The Sultan and the Queen melacak pengaruh Islam terhadap budaya Inggris selama setengah millennium (500 tahun), antara masa Perang Salib hingga kebangkitan Kerajaan Inggris di Timur Tengah.

Etika Dalam Menasehati Orang Lain

Nasihat memiliki tempat yang penting dalam agama Islam. Memberi nasihat dapat memantapkan persaudaraan di antara umat Islam. Terlebih, bila nasihat yang disampaikan seorang Muslim semata-mata hanya karena Allah dan muncul sebagai wujud kasih sayang terhadap saudaranya.

Mengapa Yahudi Begitu Takut Pada kaum Wanita ?

Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya.

Sabtu, 31 Desember 2016

Subhanallah 5 Gubernur Ini Ternyata Seorang Hafiz Quran

Foto: sumbarprov.go.id

MENJADI seorang Gubernur tentu harus mahir dalam menjalankan roda politik pemerintahan. Tak hanya itu, seorang Gubernur juga harus mempunyai ilmu tentang agama yang mumpuni agar dapat melayani masyarakat dengan baik.

Lantas bagaimana jika ada Gubernur yang hafal Al-Quran, adakah korelasinya dengan kepemimpinan? Apakah pemimpin yang hafal Al-Quran itu bisa berprestasi?Menurut “The Millionaire Mind” karya Thomas Stanley, ada lima hal menjadikan seorang berprestasi, hingga menjadikannya sukses.Kelima faktor tersebut antara lain;1. Jujur kepada semua orang.2. Menerapkan disiplin3. Bergaul baik dengan orang lain4. Memiliki Suami atau isteri yang mendukung5. Bekerja Lebih Giat dari pada kebanyakan orang


Dari kelima faktor itu, sepertinya dimiliki oleh mereka yang hafal Al-Quran.Seorang penghafal Al-Quran mempunyai tanggung jawab untuk mengamalkan Al-Qur’an yang telah dihapalnya di luar kepala. Termasuk melayani masyarakat yang dipimpinnya, supaya lebih aman dan sejahtera.Berikut 5 Gubernur hafiz Al-Quran Indonesia yang dikutip dari berbagai media:


1. Gubernur Jawa Barat, Ahmad HeryawanGubernur yang biasa disapa Aher ini telah menjabat sebagai gubernur Jawa Barat selama dua periode, hingga tahun 2018. Sampai saat ini ia telah meraih lebih dari 132 penghargaan untuk provinsi yang dipimpinnya.

2. Gubernur Sumatera Barat, Prof. Irwan Prayitno
Irwan Prayitno menjabat gubernur Sumatera Barat untuk periode kedua, hingga tahun 2020. Selain sebagai Gubernur yang juga hafidz Al Qur’an, ayah dari 10 anak ini juga produktif menulis.

3. Gubernur NTB, M. Zainul MajdiMuhammad Zainul Majid yang biasa disapa Tuan Guru Bajang, menjabat gubernur Nusa Tenggara Barat untuk periode kedua. Pada tahun 2008 silam, ia mendapatkan penghargaan sebagai gubernur termuda (36 tahun) dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

4. Gubernur Maluku Utara, Abdul Ghani KasubaAbdul Ghani Kasuba menjabat gubernur Maluku Utara hingga tahun 2019. Sebelumnya, ia menjabat sebagai wakil gubernur periode 2008-2013. Ghani menduduki posisi orang nomor 1 di Maluku Utara, disokong oleh PKS dan sejumlah partai lain.

5. Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, ST.Gatot Pujo Nugroho, ST. beliau adalah Gubernur Sumatera Utara dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Prestasi yang telah diraih Gubernur Sumatera Utara, sesaat sebelum maju kembali telah menorehkan 99 penghargaan.

sumber : islampos

x

Kamis, 29 Desember 2016

Inilah Kunci Agar Ibadahmu Benar dan Khusyuk



Kegemaran Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman al-Ishaqi adalah berziarah kepada para wali Allah, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Beliau mengenal mereka secara dekat, bukan hanya nama-nama mereka bahkan nasab dan hubungan mereka satu sama lain. Sampai-sampai beliau hidup-hidupkan dan beliau semarakkan peringatan hari wafat mereka, terutama wafatnya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani Ra. Sehingga hampir tiada hari yang lewat di kota maupun desa terutama di Jawa Timur, kecuali di situ terdapat majelis manaqib. Kiai Utsman adalah orang yang pertamakali menggagas penyelenggaraan Manaqiban.

يوم لاينفع مال ولابنون الا من اتى الله بقلب سليم

Kiai Utsman menafsirkan “qalbun salim” dalam ayat ini sebagai hati yang selamat dari penyakit batin dan penuh rasa cinta kepada Allah, RasulNya serta para waliNya. Sebab, kata beliau, tanpa para wali kita tidak mungkin dapat mengabdi kepada Allah Swt. dengan benar. Maka banyak-banyaklah tawassul kepada Auliya’, insya Allah hati kita akan menjadi khusyuk.

Pernah terjadi saat Kiai Utsman memimpin istighatsah tiba-tiba datang seseorang yang tidak dikenal. Dia langsung menelantangkan Kiai Utsman dan melingkarkan pedangnya pada leher beliau. Kejadian tragis ini pun diceritakan kepada sang guru, Kiai Romli. Kiai Romli hanya menjawab, “Teruskan apa yang telah kamu amalkan. Orang tersebut tidak akan berani menancapkan pedangnya pada lehermu. Bahkan dalam waktu dekat ini orang itu tidak akan berpisah denganmu sejengkalpun.” Dan kenyataannya seperti apa yang dinyatakan oleh Kiai Romli Tamim.

Tentang keutamaan menaqiban, Kiai Utsman pernah mengatakan, “Tidak ada ibadah kepada Allah di muka bumi ini yang lebih utama daripada mencintai wali-wali Allah.”

Beliau juga mengatakan, “Mencintai para wali termasuk ketaatan yang terbesar. Dan mereka yang menghadiri majelis manaqib adalah orang-orang yang cinta kepada mereka (para wali Allah). Dan mencintai mereka adalah bukti akan adanya rasa cinta kepada Allah Swt.”

Haul Kiai Sepuh dan Haul Akbar Jatipurwo Surabaya

Kata Agus A. Danyalin bin Minanurrahman bin Utsman al-Ishaqi, “Disebut “Haul Akbar” karena yang diperingati haulnya ialah Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al-Jilani Ra. Adalah acara yang dirintis oleh KH. M. Utsman al-Ishaqi Surabaya sejak dari tahun 1947-an (Manaqiban) dan Haul Akbar di tahun 1950-an. Bukan melihat berjibun jumlahnya yang hadir, tapi lebih kepada siapa yang diperingati haulnya. Itulah Haul Akbar.”

Haul Kiai Sepuh KH. M. Utsman al-Ishaqi Ra. akan diselenggarakan tanggal 4 januari 2017 M. dan Haul Akbar Kanjeng Syaikh Abdul Qadir al-Jilani Ra. akan diselenggarakan pada tanggal 9 Januari 2017 M. Bertempat di Pondok Pesantren Darul Ubudiyah Raudlatul Muta’allimin Jl. Jatipurwo VII/15 Kel. Ujung Kec. Semampir Surabaya Utara.

 (Sumber:ibjmart.com)


Cara Mendekat kepada Para Wali



Al-Imam al-Quthb al-Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas berkata, “Sepatutnya seseorang memiliki tali hubungan dengan orang shaleh atau wali, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal.”

Al-Imam al-Quthbul Wujud al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata, “Siapa orang yang tidak pernah duduk dengan orang arif (shaleh) maka kehidupannya akan terlewat dengan sia-sia dan ia terhitung sebagai orang yang merugi.”

Lalu bagaimana cara kita menjalin hubungan dengan orang shaleh?

Al-Alim al-Allamah al-Musnid al-Habib Umar bin Hafidz berkata: “Al-Imam al-Habib Hasan bin Ahmad al-Atthas menyebutkan jika seseorang menyebut nama orang shaleh atau wali maka jarak antara ia dengan orang shaleh/wali tersebut semakin dekat. Orang yang menyebut nama orang shaleh/wali itu seperti orang yang menelpon. Contohnya ketika kita memencet nomor telpon maka akan berdering pada nomer yang kita tuju. Begitu juga ketika kita sebut nama orang shaleh/wali maka akan berdering di sisi orang shaleh/wali tersebut. Siapa orang yang membaca wirid atau kitab orang shaleh, ketahuilah bahwa orang shaleh tersebut hadir. Jika kita sering menyebut nama orang shaleh maka sirr orang tersebut akan melekat pada wajah kita.”

 (Sumber: Ibjmart.Com)

Sabtu, 17 Desember 2016

Inilah Ciri-ciri Orang yang Lalai dalam Shalat

Jagalah Shalat

“Duh! kog dah adzan lagi sih…padahal kerjaan sedang tanggung…”
“Yah adzan subuh ? Padahal bigmatch nya lagi seru nih! Nanti saja shalatnya kalau bola sudah selesai ah. Tapi waktu shalatnya nanti keburu habis?! Tunggu iklan saja deh kalau begitu, shalatnya juga harus cepat nih.”
SHALAT merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Meninggalkannya akan membawa malapetaka bagi dirinya. Baik itu di dunia maupun di akhirat. Maka, sudah selayaknya jangan berani-berani kita meninggalkan kewajiban yang satu ini. Sebab, apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya sudah pasti akan terjadi.
Banyak orang yang melaksanakan shalat. Namun, tak sedikit pula orang “lalai” dalam menjalankan shalatnya. Banyak orang shalat yang hanya untuk menggugurkan kewajiban saja, tanpa melihat sisi baik lainnya dari mengerjakan shalat.
Khusyu’ pun jauh untuk didapatkan, karena hati dan pikiran menomor 13 khan apa yang sedang dikerjakan. Tak ada kesan fresh sehabis shalat, bahkan makin melemas dan mungkin lupa sudah rekaat keberapa sehingga tak ada daya untuk bangkit semangat dari ruku dan sujud.
Bacaan shalat meluncur deras tanpa teringat apa yang terbaca, padahal shalatpun belum usai. Menggerutu dalam jamaah, dibarengi malas dalam menggerakkan badan untuk menggenapkan rukun-rukun shalat.
Ketahuilah Sobat bahwa orang-orang tersebut di atas termasuk jenis orang yang melalaikan shalatnya. Perhatikanlah firman Allah Swt,
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ – الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maa’uun: 4-5)
Sahabatku yang dimuliakan Allah, Beliau Al-Haafidz Ibnu Katsir telah membahas perihal ini. Yang dimaksud orang-orang yang lalai dari shalatnya adalah:
  1. Orang tersebut menunda shalat dari awal waktunya sehingga ia selalu mengakhirkan sampai waktu yang terakhir.
  2. Orang tersebut tidak melaksanakan rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
  3. Orang tersebut tidak khusyu’ dalam shalat dan tidak merenungi makna bacaan shalat.
    Dan siapa saja yang memiliki salah satu dari ketiga sifat tersebut maka ia termasuk bagian dari ayat ini (yakni termasuk orang-orang yang lalai dalam shalatnya).
Lalai yang diperturutkan, keengganan yang terus dilanjutkan bisa membuat menjadi lalai mutlak. Alias meninggalkan sama sekali kegiatan shalat, bahkan dengan sadar sengaja (naudzubillah). Walaupun eKTPnya masih Islam, maka Allah Swt sudah berikan garis yang amat jelas :
Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat secara keseluruhan hukumnya kafir keluar dari Islam, berdasarkan sabda Nabi SAW:
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah)
Semoga Kita tidak termasuk orang-orang yang celaka, dikarena MELALAIKAN Shalat….
‘Allaahumma Mushorrifal Quluub, Shorrif Quluubanaa ‘Alaa Tho’atika’…
“Ya Allah, Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk selalu taat kepada-Mu.” (HR. Muslim)
Doa SABAR & Teguh PENDIRIAN
Robbanaa Afrigh ‘Alainaa Shobron wa Tsabbit Aqdaamanaa..
Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami & teguhkanlah pendirian kami …(QS.2: 250).
sumber : percikaniman.org

Jumat, 16 Desember 2016

Inilah Keutamaan Menahan Amarah



Allah SWT berfirman:
 
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
 
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)
 
Rasulullah SAW menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya,
 
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ
 
“Barangsiapa yang menahan amarah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, Allah akan panggil ia di hadapan para makhluk pada hari kiamat, hingga Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari (terbaik) yang ia inginkan.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
 
Menahan amarah adalah sebab memperoleh ampunan Allah dan jannah-Nya:
 
“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa, yaitu orang yang menginfakkan (hartanya) di waktu lapang atau susah, dan orang-orang yang menahan amarah, dan bersikap pemaaf kepada manusia, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ali Imran: 133-134)
 
Sahabat Nabi, Ibnu Umar ra berkata, "Tidak ada luapan yang lebih besar pahalanya di sisi Allah selain daripada luapan kemarahan yang ditahan oleh seseorang hamba demi menggapai wajah Allah.” (HR. Bukhari)
 
️Abdullah bin Mubarak Al Marwazi, ketika dikatakan kepada beliau, "Sampaikanlah kepada kami (nasehat) yang menghimpun semua akhlak yang baik dalam satu kalimat." Beliau berkata, “(Yaitu) menahan amarah”.
 
Karena cepat marah merupakan tanda lemahnya seseorang, meskipun ia memiliki badan yang sehat, lengan yang kuat, dan pandai bergulat.
 
“Orang kuat bukanlah yang ahli dalam bergulat, akan tetapi orang kuat adalah yang mampu mengekang dirinya saat marah.” (Muttafaqun ‘alaih)
 
Begitu indah nasehat Rasulullah SAW:
 
لَا تَغْضَب وَلَك الْجَنَّة
 
“Janganlah engkau mudah marah, niscaya engkau mendapatkan jannah.” (HR. Thabarani)
 
Semoga kita termasuk hamba yang bisa menahan amarah. Aamiin...
 
Wallahu a'lam bisshawab

sumber : suara-islam.com

Perilaku Marah Yang Terpuji



Ummul mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata: 
 
وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا

"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah marah karena (urusan) diri pribadi beliau, kecuali jika batasan syariat Allah dilanggar, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan marah dengan pelanggaran tersebut karena Allah." [HR. Bukhari dan Muslim]
 
Inilah marah yang terpuji dalam Islam, marah karena Allah Azza wa Jalla. Marah dan tidak ridha ketika perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla dilanggar oleh manusia. Inilah akhlak mulia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang selalu ridha dengan apa yang Allah ridhai dalam al-Qur'an dan benci atau marah dengan apa yang dicela oleh Allah dalam al-Qur'an.
 
Sangat mudah orang mengumbar kemarahan saat ini, karena hal sepele bisa berujung perkelahian, seperti: senggolan motor, rebutan jalur saat mengendara, karena di klakson dan banyak hal lain biasa kita lihat dijalanan.
 
Di tengah kehidupan sehari juga demikian, sesama tetangga tersinggung karena merasa dilecehkan, tawuran pendukung sepakbola karena di ejek timnya kalah atau tawuran antar kampung dan kampus karena di picu hal-hal sepele. Mudahnya tersulut emosi karena banyak faktor; pendidikan yang rendah, kehidupan/ekonomi yang makin sulit, lemahnya iman dan faktor lain yang membuat akal sehat tidak lagi berfungsi.
 
Islam sebagai agama yang sempurna juga mempunyai aturan tentang marah. Marah dibolehkan ketika kehormatan Allâh Azza wa Jalla (Islam) di langgar, marah dilarang karena dorongan perbedaan etnis, kelompok, golongan atau kebangsaan (’ashabiyah).
 
Kita bisa belajar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kapan dan bagaimana Beliau marah. Rasulullah adalah manusia yang paling mampu mengendalikan dirinya, paling bagus akhlaknya, penyayang dan lembut sifatnya. Kemarahan Beliau hanya karena Allah Azza wa Jalla.
 
Wallahu a'lam bisshawab

sumber : suara-islam.com

Tutuplah Aib Saudara Dan Sahabatmu



Ketika kita asyik membicarakan kekurangan orang lain seakan lupa dengan diri sendiri. Seolah diri sendiri sempurna tiada cacat dan cela. Ibarat kata pepatah, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.” 
 
Seorang ulama salaf berkata : “Aku mendapati orang-orang yang tidak memiliki cacat/cela, lalu mereka membicarakan aib manusia maka manusia pun menceritakan aib-aib mereka. Aku dapati pula orang-orang yang memiliki aib namun mereka menahan diri dari membicarakan aib manusia yang lain, maka manusia pun melupakan aib mereka.” (Jami’ul Ulum Wal Hikam, 2/291)
 
Allah Ta'ala berfirman: 
 
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ 
 
“Sesungguhnya orang-orang yang menyenangi tersebarnya perbuatan keji di kalangan orang-orang beriman, mereka memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (Qs. An-Nur 19)
 
Rasulullah shallalahu alaihi wassalam bersabda : 
 
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ 

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya(Yakni lisannya menyatakan keimanan namun iman itu belum menancap di dalam hatinya.). Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Abu Dawud 4880) hasan shahih 
 
Dan juga sabda Beliau shallahu alaihi wassalam yang lain: “Wahai sekalian orang yang mengaku berislam dengan lisannya dan iman itu belum sampai ke dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah menjelek-jelekkan mereka, jangan mencari-cari aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat saudaranya sesama muslim, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya walau ia berada di tengah tempat tinggalnya.” (HR. At-Tirmidzi 2032) 
 
Aurat di sini adalah aib/cacat atau cela dan kejelekan. Dilarang mencari-cari kejelekan seorang muslim untuk kemudian diungkapkan kepada manusia. (Tuhfatul Ahwadzi) 
 
Dari hadits di atas tergambar pada kita betapa besarnya kehormatan seorang muslim. Sampai-sampai ketika suatu hari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu anhuma memandang ke Ka’bah, ia berkata: 
 
مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالْمُؤْمِنُ أَعْظَمَ حُرْمَةً عِنْدَ اللهِ مِنْكِ 

“Alangkah agungnya engkau dan besarnya kehormatanmu. Namun seorang mukmin lebih besar lagi kehormatannya di sisi Allah darimu.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi 2032) 
 
Karena itu, Tutuplah cela yang ada pada dirimu dengan menutup cela yang ada pada saudaramu. Dengan engkau menutup cela saudaramu, Allah Ta'ala akan menutup celamu di dunia dan kelak di akhirat. Karena barangsiapa yang Allah Ta'ala tutup celanya di dunianya, di hari akhir nanti Allah Ta'ala pun akan menutup celanya sebagaimana sabda Rasulullah shallalahu alaihi wassalam : 
 
لاَ يَسْتُرُ اللهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ 

“Tidaklah Allah menutup aib seorang hamba di dunia melainkan nanti di hari kiamat Allah juga akan menutup aibnya.” (HR. Muslim 6537) 
 
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Tentang ditutupnya aib si hamba di hari kiamat, ada dua kemungkinan. Pertama: Allah akan menutup kemaksiatan dan aibnya dengan tidak mengumumkannya kepada orang-orang yang ada di mauqif (padang mahsyar). Kedua: Allah Ta'ala tidak akan menghisab aibnya dan tidak menyebut aibnya tersebut.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/360) 
 
Sebagaimana pula Rasulullah shallahu alaihi wassalam bersabda : 
 
إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُوْلُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُوْلُ: نَعَمْ، أَي رَبِّ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوْبِهِ وَرَأَىَ فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطِي كِتَابَ حَسَنَاتِهِ … 

“Sesungguhnya (di hari penghisaban nanti) Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin (sehingga penghisabannya tersembunyi dari orang-orang yang hadir di mahsyar). Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau kerjakan?’ Si mukmin menjawab: ‘Iya, hamba tahu wahai Rabbku (itu adalah dosa-dosa yang pernah hamba lakukan).’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosanya dan ia memandang dirinya akan binasa karena dosa-dosa tersebut, Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan-kebaikannya…” (HR. Bukhori dan Muslim) 

Wallahu a'lam bisshawab

sumber : suara-islam.com

Subhanallah, Inilah Hikmah Ketika Kita Sujud

Bersujud (ilustrasi).

Sujud termasuk ibadah yang teragung dan dicintai oleh Allah SWT. Ini karena, di dalamnya, terkandung kesempurnaan, penghinaan, dan perendahan diri kepada Allah SWT. Bagaimana tidak? Kepala merupakan anggota tubuh yang terletak paling atas dan ini kita sungkurkan ke tanah sebagai bentuk ketundukan kepada Sang Pencipta.

Memperbanyak sujud dalam shalat adalah memperbanyak shalat itu sendiri semisal dalam bentuk shalat sunnah. Sujud dapat menjadi salah satu cara untuk melakukan menghapus dosa dengan membaca istghfar dalam sujud kita

Salah satu rangkaian dalam rukun shalat adalah sujud yang berarti 'memuliakan', 'menghormati', 'tunduk dan patuh' kepada Allah SWT. Di dalam Islam, ada beberapa jenis sujud, yakni sujud sahwi (sujud yang dilakukan karena lupa dalam gerakan shalat), sujud syukur (sujud yang dilakukan sebagai tanda bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan-Nya) dan sujud tilawah (sujud yang dilakukan saat menjumpai ayat-ayat sajdah).

Dalam kaitan sujud tilawah, terdapat hadis yang artinya: “Nafi' dari Ibnu Umar meriwayatkan: Rasulullah saw membacakan untuk kami satu surat, yakni surat As Sajdah, lalu Rasulullah saw sujud dan kamipun sujud bersamanya” (HR.Bukhari dan Muslim).

Sujud dapat membuat manusia memiliki predikat Ibadurrahman atau hamba Tuhan yang maha penyayang dan akan mendapat jaminan masuk surga. Hal ini sebagai mana difirmankan oleh Allah SWT dalam Alquran Surat Al Furqan ayat 63-64 yang artinya: "Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, Salam, dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri".

Wajah yang kita sungkurkan ke tanah untuk sujud kelak akan bercahaya pada hari kiamat. Bahkan anggota tubuh yang biasa kita gunakan untuk bersujud kepada Allah tidak akan tersentuh neraka.

Agar perintah sujud dapat kita laksanakan dengan penuh penghayatan, maka setiap kita perlu memahami apa makna atau hikmah dibalik perintah sujud kepada Allah swt. Di antaran hikmah sujud adalah sebagai berikut: sebagai wujud kepatuhan. Sujud yang secara harfiyah berarti patuh menunjukkan bahwa bila manusia sujud, berarti ia siap untuk menunjukkan kepatuhan dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga sebagaimana alam semesta sudah tunduk pada ketentuan Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (QS. Arf Ra’d: 15).

Sujudnya apa yang di langit dan di bumi berarti kepatuhannya memenuhi ketetapan Allah SWT yang berkaitan dengan alam semesta, bahkan bayang-bayangpun sujud untuk menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah swt terhadap alam raya ini.

Selain itu sebagai, tuntutan Iman dan ilmu. Orang yang berilmu dan mendasari penguasaan ilmunya itu dengan iman akan membuat ia selalu sujud kepada Allah SWT. Hal ini, karena ilmu memang akan mengantarkan seseorang kepada iman yang mantap mengingat betapa luas ilmu yang dimiliki Allah swt dan betapa sedikit ilmu yang bisa kita kuasai, ini semua akan membuat seorang mukmin harus selalu bersujud kepada Allah SWT

Namun, kenyataan menunjukkan, bahwa banyak manusia yang tidak mau sujud kepada Allah SWT. Itu karena kesombongannya dan keengganan mereka untuk tunduk pada perintah Allah. Kondisi ini akan membuatnya semakin jauh dengan ajaran yang datang dari Allah SWT. Padahal sebenarnya, mereka amat membutuhkannya.

Sumber : kemenag.go.id

Jangan Sombong karena Berkuasa

sombong,angkuh,menang sendiri  (ilustrasi).

Oleh: Makmum Nawawi
Dikisahkan bahwa ketika Lukman tidur siang, Allah memerintahkan sebagian malaikat, seraya berseru: Hai Lukman, maukah engkau dijadikan khalifah (penguasa) di muka bumi ini, yang memerintahkan dan mengadili manusia dengan benar?

Suara menjawab: Jika saya disuruh memilih oleh Allah, saya akan mengambil sehat dan tidak mau mengambil bala atau sakit. Namun, jika khalifah itu ditetapkan terhadap saya maka saya dengar dan taat. Karena saya yakin, jika Allah mendudukkan saya dalam posisi itu, pasti Allah akan menolong dan menjaga saya.

Mengapa, ya Lukman? tanya malaikat dengan suara yang tidak kelihatan rupanya. Lukman menjawab: Karena pemerintahan atau kekuasan adalah kedudukan yang paling berat dan paling keras, yang diselubungi dengan kezaliman dari setiap tempat dan penjuru. Jika beres dalam menjalankannya maka ia pantas meraih keselamatan, tapi jika salah maka salah (menyimpang) pula dalam meniti jalan menuju surga.

Barang siapa yang hina dan nista di dunia, tapi mulia dan terhormat di akhirat. Maka itu lebih baik daripada mulia di dunia tapi hina di akhirat. Dan barang siapa yang memilih dunia ketimbang akhirat maka dunia teramat remeh dan sungguh tak berarti, sementara akhirat tak bisa diraih. Malaikat takjub dan terpukau dengan indahnya kata-kata Lukman. Dalam tidurnya itu, Allah menganugerahinya hikmah. Begitu sadar dan terbangun, ujaran Lukman pun menjadi sarat dengan hikmah.

Nabi Daud juga tertolong oleh Lukman dengan tutur katanya yang penuh hikmah ini, sehingga ia pun berucap: Berbahagialah engkau hai Lukman, engkau telah diberikan hikmah dan dipalingkan darimu bala bencana. Sementara Daud dianugerahi khilafah (kekuasaan), lalu diuji dengan hukum dan fitnah.
Kata-kata hikmah Lukman tersebut menemukan justifikasinya pada era sekarang ini, ketika banyak pemimpin dan pemegang kekuasaan terseret ke dalam kesombongan dan perilaku zalim. Bukan hanya terhadap orang lain, tapi juga zalim terhadap dirinya sendirinya. Dengan menghalalkan segala macam cara dan bahkan menistakan agama.

Di level kekuasaan dan kepemimpinan yang paling bawah, di desa misalnya, sering dijumpai tokoh yang tadinya taat beragama dan berlatar belakang santri. Ketika masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, tak tahan dengan godaan, akhirnya ambruk di tengah jalan. Nilai akhlak dan muruah tercerabut dari dirinya. Demikian pula, banyak pemimpin dan pemegang kekuasaan di dunia ini yang melakukan tindakan keji dan biadab, lantaran merasa dirinya berkuasa.

Begitulah pesona kekuasaan, wajar jika banyak guru spiritual emoh terhadap jabatan atau kekuasaan (riyasah) ini. Kendati begitu, masih banyak tokoh pemimpin dunia yang memoles bumi ini dengan nilai-nilai Ilahi, yang menebarkan kedamaian dan kenyamanan bagi penghuninya.

Mereka menyadari sepenuhnya, sebagaimana banyak amanat lainnya, kepemimpinan dan kekuasaan juga merupakan jembatan menuju Ilahi, yang rapor-nya kelak akan dijumpai di hadapan-Nya. Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya. (QS al-Insyiqaq [84]: 6).

sumber : republika

Diberdayakan oleh Blogger.