Tanda Orang Yang Sukses

Ketika membaca surah Ali Imran ayat 185 dan terjemahannya, ada beberapa hal muncul di benak untuk kita jadikan sebagai bahan renungan. Allah berfirman yang artinya:

Inilah Rahasia Di Balik Berteman Dengan Orang Buruk

Islam mengatur kehidupan umat manusia dengan sangat baik. Islam memberikan petunjuk secara paripurna dengan cara yang sangat sempurna. Islam mengatur seluruh persoalan, pun yang dianggap tidak penting bagi pandangan hidup orang kekinian.

Ketika Inggris Mengidolakan Dunia Islam

Tanpa orang-orang Islam, mungkin tak akan ada gula dan Shakespeare di Inggris. Jerry Brotton dalam The Sultan and the Queen melacak pengaruh Islam terhadap budaya Inggris selama setengah millennium (500 tahun), antara masa Perang Salib hingga kebangkitan Kerajaan Inggris di Timur Tengah.

Etika Dalam Menasehati Orang Lain

Nasihat memiliki tempat yang penting dalam agama Islam. Memberi nasihat dapat memantapkan persaudaraan di antara umat Islam. Terlebih, bila nasihat yang disampaikan seorang Muslim semata-mata hanya karena Allah dan muncul sebagai wujud kasih sayang terhadap saudaranya.

Mengapa Yahudi Begitu Takut Pada kaum Wanita ?

Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya.

Tampilkan postingan dengan label Kisah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Januari 2017

Bacalah Doa Ini 3 Kali, Niscaya Malaikat Turun dari Langit Ketiga untuk Membantu



Seorang laki-laki melakukan perjalanan bisnis dari Syam ke Madinah. Karena satu dan lain hal, ia tidak turut serta bersama pebisnis lain. Ia berupaya sekuat kemampuan untuk menjaga barang dagangan seraya bertawakkal kepada Allah Ta’ala.
Di tengah perjalanan, seorang perampok mencegat dirinya. Membawa sebilah pedang, perampok itu berteriak mengancam, “Berhenti!”
Tanpa banyak protes, laki-laki ini lekas tunaikan langkahnya.
“Serahkan semua hartamu. Menyingkirlah dari jalan,” paksa si perampok.
“Sebelum mengambil semua hartaku dan membawanya pergi, izinkan aku mendirikan shalat sunnah,” lanjut si laki-laki, tenang.
“Segeralah! Jangan berlama-lama,” bentak si perampok, mengizinkan.
Si laki-laki pun mengambil air wudhu dengan khusyuk, memastikan arah kiblat, lalu mengangkat tangan seraya mengucapkan takbir, memuji Kemahabesaran Allah Ta’ala.
Setelah larut dalam khusyuk, si laki-laki yang mendirikan empat raka’at sunnah itu menengadahkan tangan, meminta kepada Allah Ta’ala Yang Maha Mengabulkan doa.
“Setelah laki-laki itu menyelesaikan doanya,” tutur Imam Abu Bakar Al-Thurthusyi Al-Andalusi mengisahkan di dalam Al-Ma’tsurat, “seketika itu datanglah seorang laki-laki yang menunggani kuda dan membawa belati berkilauan cahaya.”
Si perampok segera menyergap laki-laki berjubah hijau, lalu terjadilah adu fisik antara keduanya. Dengan mudah, laki-laki berjubah berhasil melumpuhkan si perampok hingga tiada daya.
Sosok berjubah putih itu pun mendatangi si laki-laki yang masih berada dalam posisi berdoanya, “Berdirilah dan bunuhlah dia.”
“Siapa kamu? Aku tidak pernah membunuh seorang pun sebelumnya. Aku tidak ingin membunuhnya.” tegas si laki-laki.
“Aku adalah malaikat dari langit ketiga. Saat engkau memanjatkan doa, kami mendengar ketukan di pintu-pintu langit. Para malaikat berkata, ‘Ada sesuatu yang terjadi’. Tak lama setelah itu, Jibril menyebutkan nama orang yang menimpakan kesusahan kepadamu (perampok). Allah Ta’ala memanggil namaku, lalu memerintahkan agar aku membunuhnya.”
Sebelum beranjak pergi, malaikat yang berubah menjadi laki-laki berjubah hijau, menunggang kuda, dan membawa belati berkilauan cahaya ini berkata, “Wahai Abdullah, ketahuilah. Siapa saja yang berdoa dengan doa yang engkau panjatkan tadi saat alami kesukaran dan musibah, Allah Ta’ala akan menghilangkan kesusahannya itu dan menolongnya.”
Doa yang dipanjatkan oleh laki-laki dalam kisah ini terdapat dalam kitab Al-Ma’tsurat tulisan Imam Abu Bakar Al-Thurthusyi Al-Andalusi.
“Wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih. Wahai Dzat Pemilik ‘Arsy yang agung. Wahai Dzat Yang Maha Mengadakan dan Maha Membangkitkan. Wahai Dzat Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu yang dikehendaki. Aku memohon kepada-Mu dengan cahaya Wajah-Mu yang memenuhi pilar-pilar ‘Arsy-Mu, dengan Kekusaan-Mu yang Engkau menciptakan Makhuk-Mu, dengan Rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu. Tidak Tuhan selain Engkau. Wahai Dzat Maha Penolong, tolonglah Aku. Wahai Dzat Maha Penolong, tolonglah aku.” 
sumber : kisahikmah.com

Senin, 16 Januari 2017

Inilah Isi Surat Umar Bin Khattab Untuk Sungai Nil






Ada banyak kisah supranatural dalam sejarah generasi Islam awal yang memang jarang dan nyaris tak pernah sampai di telinga kita. 
Di antaranya adalah kisah surat Umar bin Khattab RA, khalifah kedua pengganti Rasulullah SAW, yang ditulis kepada Sungai Nil. Ada apakah gerangan? 
Cerita surat Umar tersebut dinukilkan dari kitab ulama Nusantara, asal Termas, Jawa Timur yang hidup abad ke-19, yaitu Syekh Mahfuzh at-Tarmasi dengan judul Bughyat al-Adzkiya’ fi al-Bahtsi ‘An Karamat al-Awliya.
Dalam kitab yang oleh Penerbit Sahifa dialihbahasakan dengan judul Nabi Khidir dan Keramat Para Wali itu dikisahkan, pada masa jahiliyah, jika Sungai Nil tidak mengalir dalam satu tahun dilemparlah tumbal berupa seorang perawan ke dalam sungai terpanjang di dunia tersebut.
Ketika telah masuk masa Islam, pada suatu saat, Nil yang seharusnya sudah mengalir, ternyata tidak mengalir. Penduduk Mesir kemudian mendatangi 'Amr bin 'Ash, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Mesir.
Mereka melaporkan bahwa sungai dengan panjang 6.650 km kering sehingga harus diberi tumbal dengan melempar seorang perawan yang dilengkapi dengan perhiasan dan pakaian terbaiknya. 
Kemudian 'Amr bin Ash RA berkata kepada mereka, "Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan karena Islam telah menghapus tradisi tersebut." 
Akhirnya penduduk Mesir bertahan selama tiga bulan tanpa aliran air dari sungai yang pada masa sekarang membelah kurang lebih sembilan negara di kawasan Afrika itu. Mereka benar-benar menderita.
'Amr menulis surat kepada Khalifah  Umar menceritakan peristiwa tersebut. Dalam surat jawaban untuk 'Amr bin 'Ash, Umar menyatakan, "Engkau benar bahwa Islam telah menghapus tradisi tersebut. Aku akan menulis sesuatu pada secarik kertas dan lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil!" Kemudian 'Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke sungai Nil.
Kemudian 'Amr melempar kertas tersebut ke sungai Nil sebelum kekeringan benar-benar terjadi. Sementara itu, penduduk Mesir telah bersiap-siap pindah meninggalkan Mesir. 
Pagi harinya, ternyata Allah SWT telah mengalirkan Sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam.
Ketika itu 'Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparnya ke Sungai Nil, ternyata kertas tersebut berisi tulisan Khalifah Umar untuk Sungai Nil di Mesir yang menyatakan: 
"Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri maka jangan mengalir. Namun, jika Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa yang mengalirkanmu maka kami mohon kepada Allah yang Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir." Kisah ini juga merupakan salah satu bukti karamah yang dimiliki oleh generasi Islam masa awal. 
sumber : republika

Minggu, 15 Januari 2017

Kisah Habib Ali Ketika Bertemu Dengan Pembunuh Ayah Habib Umar



kisah-habib-ali-al-jufri-membenci-pembunuh-ayah-habib-umar-copyHabib Ali al-Jufri pernah bercerita, “Aku pernah berada di kota Aden, berada dalam satu majelis dengan seorang bekas penguasa/pemimpin yang sangat dzalim, dimana ketika berkuasa dia melakukan banyak kemungkaran dengan membantai atau membunuh banyak ulama besar Hadhramaut, diantaranya salah satu yang menjadi korbannya adalah guru mulia kami asy-Syahid Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, ayahanda dari guru kami Habib Umar bin Hafidz.
Takdir telah membawaku untuk bertemu dengannya. Dan ketika aku menatapnya (setelah aku diberitahu siapa dia) timbul perasaan tidak suka/tidak nyaman yang luar biasa. Bahkan aku tidak mau berbicara dengannya, meskipun sekadar berdakwah sekalipun. Aku tahu sikapku ini keliru dan salah, karena memanggil orang ke jalan Allah harus diutamakan, tak peduli siapa mereka atau apa yang pernah mereka lakukan.
Dan tiba-tiba saja orang dzalim itu menghampiriku dan berkata, “Aku ingin bertaubat! Apa yang harus kulakukan?”
Aku pun berusaha keras untuk menguasai diriku, agar bisa menjawab permintaannya dengan baik. Dan aku berusaha tersenyum supaya ia tidak pergi menjauh dari kebenaran yang ia inginkan.
Segera setelah keluar dari majelis aku tetap merasa sangat terganggu dan tidak nyaman, maka aku menelepon guruku Sayyidil Habib Umar bin Hafidz serta menceritakan dengan siapa aku telah bertemu. Dan beliau hanya bertanya, “Apa maunya?”
Aku katakan keinginan orang itu untuk bertobat dan minta maaf, tapi aku tak mampu menuntunnya dengan baik karena hatiku sangat tak menyukai dengan apa yang telah ia lakukan dimasa lalu.
Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz kemudian berkata, “Ali, penuhilah hak Allah atasmu, yaitu menuntun ia kepada Allah. Tunjukkan kasih sayang dan perhatian atasnya dari dasar hatimu yang paling dalam. Dan untuk perasaanmu yang tidak suka berkumpul bersamanya atau ketidaknyamananmu itu, maka alihkan kepada kebencian terhadap perbuatannya, bukan kepada individu atau orangnya. Karena Rasulullah Saw. tetap menerima keislaman Wahsyi (orang suruhan Hindun istri Abu Sufyan) yang telah membunuh paman tercinta Nabi, yaitu Sayyidina Hamzah (dengan cara menombaknya dari jauh kemudian memutilasinya dan mengeluarkan jantungnya). Tetapi Nabi Saw. pun tetap memaafkan dan mengampuni Wahsyi, meski beliau mengalami kesulitan menatap wajah Wahsyi dan berkata jangan biarkan aku melihatnya lagi, bukan karena benci pada Wahsyi, tetapi karena akan membuat kesedihan beliau teringat lagi keadaan paman beliau kala syahid.”
Kata-kata Habib Umar ini sungguh tak ternilai dan sangat amat berharga bagiku, karena beliau sedang berbicara tentang manusia yang pernah melakukan kejahatan terbesar dalam hidup beliau sendiri (yaitu membunuh ayah kandung beliau) dan memisahkannya dengan keluarga beliau akan tetapi masih menerima dan membantunya taubat.
(Sumber: fiqhmenjawab.net).

Inilah Perintah Shalahuddin Al Ayyubi Menjelang Shubuh


Shalahuddin Al Ayyubi, ilahirkan pada tahun 532 H, beliau –semoga Allah merahmati beliau- seorang penganut Madzhab Asy’ari dalam aqidah dan pengamal Mazhab Syafi’I dalam fiqih, seorang yang berilmu, shalih, dan mutawadli’ (rendah hati), wara’, beragama, bersahaja (zuhud), sangat rajin untuk shalat berjama’ah, tekun dalam melaksanakan amalan-amalan sunnah dan shalat malam, dan memperbanyak dzikir.
 
Ia juga senang mendengar bacaan al Qur’an, hatinya khusyu’, banyak meneteskan air mata (karena sedih meratapi kekurangannya), teman yang pengasih, lemah lembut dan suka memberi nasehat, adil, menyayangi rakyatnya, belas kasihan dan suka menolong kepada orang-orang yang dizhalimi dan orang-orang yang lemah, pemberani, pemurah, penyabar, akhlaqnya mulia, hafal al Qur’an, hafal kitab Tanbih dalam fiqih Syafi’i, banyak bertalaqqi hadits-hadits, selalu berdo’a kepada Allah dan tidak membuatnya gentar -dalam berjuang di jalan yang diridloi Allah- celaan orang yang mencela.

Wilayah kekuasaannya dari ujung Yaman sampai Maushil, dari Tripoli barat sampai Naubah, diserahi tampuk pemerintahan untuk seluruh daerah syam, Yaman dan cakupannya seperti Emirat, Qatar, Bahrain, Oman, juga seluruh Hijaz, seluruh daerah di Mesir, banyak membangun dan menyemarakkan masjid-masjid dan madrasah-madrasah, menyemarakkan benteng di gunung, pagar di Kairo, membangun Kubah makam Imam Syafi’i, menghapus penarikan pajak, membuka sekitar tujuh puluh lebih kota dan benteng-benteng, membebaskan Quds (palestina) dan menyucikannya setelah dikuasai selama 90 tahun oleh orang-orang kafir.

Wafat pada tahun 589 H, pada saat meninggal beliau berumur 57 tahun, dan tidak mewariskan kekuasaan ataupun tanah.

Di antara manaqib-manaqibnya:
Beliau memerintahkan pada muadzin untuk mengumandangkan aqidah al Mursyidah diatas menara menjelang shubuh dan para muadzin pun melaksanakannya di setiap malam diseluruh masjid– masjid jami’, kebiasaan itupun berlanjut sekitar 400 tahun lebih.

Sejarawan Taqiyuddin al–Maqrizi (w.845H)dalam kitabnya al Mawaizh Wal I’tibath Bidzikril Alkhithoti Wal Atsar berkata: “Ketika Sultan Shalahuddin Yusuf bin Ayyub diserahi jabatan pemerintahan, beliau mengeluarkan satu perintah kepada para muadzin untuk mengumandangkan di atas menara–menara pada malam hari menjelang shubuh pembacaan aqidah yang dikenal dengan al Aqidah al Mursidah dan selanjutnya para muadzin melaksanakan secara terus menerus perintah itu dengan membacakan kitab aqidah tersebut di setiap malam di seluruh masjid jami’ di Mesir sampai sekarang".

al Hafidz Jalaluddin as-Suyuti (w. 911 H)dalam kitabnya al Wasail ila Ma’rifat al Awail: “Ketika Sultan Shalahuddin Yusuf bin Ayyub diserahi pemerintahan, beliau membuat satu perintah kepada para muadzin untuk mengumandangkan di atas menara–menara pada malam hari menjelang shubuh pembacaan aqidah yang dikenal dengan al Aqidah al Mursyidahdan selanjutnya para muadzin melaksanakan secara terus menerus perintah itu dengan membacakan kitab aqidah tersebut di setiap malam di selruh masjid jami’ di Mesir sampai sekarang”.

Al a’lamah al Muhammad ibn A’lan ash-Shidiqi as-Syafi’i (w. 157 H)dalam kitabnya al Futuhat ar-Rabbaniyah a’la al Adzkar an-Nawawiyah berkata: “Ketika Shalahuddin ibn Ayub diserahi jabatan pemerintahan dan beliau menghimbau masyarakat untuk teguh mempertahankan aqidah Asy’ari, beliau memerintahkan kepada para muadzin untuk mengumandangkan aqidah asy’ariyah yang di kenal dengan sebutan al Aqidah al Mursyidah,dan mereka terus menjalankan perintah itu dan membacakan aqidah ini setiap malamnya sebelum shubuh”.
sumber : madinatuliman.com

Sabtu, 14 Januari 2017

Sungguh Menakjubkan Reaksi Umar bin Khattab Setelah Diprotes di depan Umum



Tak salah jika Michael H Hart memasukkan Umar bin Khattab sebagai salah satu dari 100 tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah. Keadilan dan kebijaksanaan Umar sungguh menakjubkan dan membuatnya sangat dicintai rakyat. Salah satunya terekam dalam kisah ini.

Umar bin Khattab menyampaikan ceramah di depan rakyatnya. “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk mendengar dan taat kepada pemimpin,” kata Umar pada bagian awal ceramah itu.

“Kami tidak akan mendengar dan mentaatimu!,” tiba-tiba salah seorang warga berdiri sembari membantah Umar.

Meskipun semasa jahiliyah Umar bin Khattab terkenal tempramen. Islam telah mengubahnya. Umar bin Khattab tidak marah. Ia ingin menyimak dulu apa alasannya.

“Mengapa?”

“Sebab,” terang orang itu, “engkau membagikan kepada kami masing-masing satu pakaian, sedangkan engkau mengenakan dua pakaian baru.”

Memang sebelum ceramah itu, Umar bin Khattab membagi-bagikan kain. Masing-masing orang mendapat satu kain baru yang bisa dipakai untuk sarung atau baju. Namun dalam kesempatan itu, Umar bin Khattab tampak memakai dua kain baru; satu untuk sarung dan satu untuk baju.

Umar bin Khattab juga tidak marah mendengar alasan pria itu. Meskipun bisa saja seorang pemimpin langsung memarahi pemrotes karena pemimpin yang telah bekerja keras pantas mendapatkan bagian lebih dibandingkan rakyatnya, tidak demikian dengan Umar bin Khattab. Selama ini ia adil dan saat ini pun ia menjaga keadilan itu hingga pada level yang sulit dicontoh siapapun setelahnya.


Umar mengarahkan pandangannya kepada jamaah yang hadir. Ia mencari-cari sesosok lelaki yang bisa memberikan kesaksian tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak langsung menjawabnya sendiri meskipun itu bisa dilakukannya dan takkan ada orang yang menuduhnya berdusta. 

Ketika pandangan Umar mengarah kepada seorang ulama muda yang bersahaja, ia memberikan isyarat. “Bangunlah, wahai Abdullah,” kata Umar. 

Pemuda itu pun berdiri. Ia tak lain adalah putranya sendiri, Abdullah bin Umar.

“Bukankah engkau yang memberikan baju yang kupakai ini?” tanya sang Amirul Mukminin.

“Benar,” jawab Ibnu Umar. 

Ada perubahan raut muka pada lelaki yang memprotes Umar tadi. Ia dan seluruh jamaah kini mengetahui bahwa kain bagian Abdullah bin Umar telah diberikannya kepada sang ayah. Wajar jika Abdullah bin Umar tidak mengenakan pakaian baru.

“Sekarang kami mendengar dan mentaatimu,” kata lelaki itu kemudian duduk dengan tenang menyimak kelanjutan ceramah Umar bin Khattab.


sumber : tarbiyah.net

Subhanallah Polisi Ini Sungguh Mulia, Gratiskan Warungnya Setiap Jumat

Suprapto beserta istri menggratiskan warungnya setiap Jumat

Banyak polisi berhati mulia. Salah satunya, Aiptu Suprapto. Anggota kepolisian yang berdinas di Polrestabes Semarang unit Provos Sie Propam ini menggratiskan warung soto miliknya setiap hari Jumat.

Setahun sudah kegiatan sosial itu dilakukan oleh Suprapto. Setiap hari Jumat ia menggatiskan soto lengkap dengan lauknya kepada pengunjung yang datang ke warungnya. Mereka cukup membayar minumnya saja.

Suprapto bersama sang istri, Emy Sulistiyati, sengaja menggratiskan soto di warung mereka sebagai bentuk sedekah di hari Jumat.

“Ya, kami memang sengaja menggratiskan kepada pengunjung setiap hari Jumat, untuk sekedar berbagi rejeki dan bersedekah, kan hari Jumat barokah Mas," kata Emy .


Suprapto juga menyampaikan alasan yang senada dengan istrinya.

"Karena ini kan hari berkah,"




Tak kurang dari 250 porsi diberikan secara gratis setiap Jumat. Sebelum shalat Jumat, biasanya soto gratis itu sudah habis. Para pengunjung umumnya adalah karyawan, wisatawan Lawang Sewu, dan orang-orang yang berkegiatan di sekitar warung yang berlokasi di gang Jalan Simpang tepat di belakang tempat wisata Lawang Sewu itu.

sumber : tarbiyah.net

Jumat, 13 Januari 2017

Inilah 13 alasan Yang Menjadikan Adebayor memeluk Islam


Inilah 13 alasan Adebayor memeluk Islam sebagaimana dirilis oleh theheraldng.com.*
Pesepakbola yang pernah bermain untuk klub-klub sepak bola top Eropa: Arsenal, Manchester City, Real Madrid, dan kini Tottenham Hotspurs ini mengatakan,
“Aku punya 13 alasan yang kuat mengapa seorang muslim itu sama seperti Yesus dan mereka lebih mengikuti Yesus daripada orang-orang Kristen:
emmanuel-adebayor-islam*Pertama,*
Yesus mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Hanya satu Tuhan saja yang berhak untuk disembah. Hal itu termaktub dalam Deut 6:4, Mark 12:29. Umat Islam juga meyakini demikian. Sebagaimana diajarkan Alquran dalam surat 4 (An-Nisa) ayat 171.
*Kedua,*
Yesus tidak makan daging babi. Dijelaskan dalam Leviticus 11:7. Sama dengan yang dilakukan umat Islam. Dan hal itu dijelaskan Alquran dalam surat 6 (Al-An’am) ayat 145.
*Ketiga,*
Yesus mengucapkan salam dengan kalimat “assalamu’alaikum” (kedamaian selalu bersamamu). Terdapat dalam John 20:21. Muslim juga mengucapkan salam dengan cara demikian.
*Keempat,*
Yesus selalu mengucapkan “God Willing” (insya Allah). Umat Islam mengucapkan kalimat ini juga sebelum mereka melakukan apapun. Sebagaimana dituntunkan dalam Alquran surat 18 (Al-Kahfi) ayat 23-24.
*Kelima,*
Yesus mencuci wajah, kedua tangan, dan kedua kakinya sebelum shalat. Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang muslim.
*Ke-enam,*
Yesus dan nabi-nabi lainnya yang terdapat di dalam Injil shalat dengan meletakkan kepala mereka di tanah. Dijelaskan dalam Matthew 26:39. Muslim juga melakukan demikian. Sebagaimana diajarkan Alquran dalam surta 3 (Ali Imran) ayat 43.
*Ketujuh,*
Yesus memiliki janggut dan memakai throbe (gamis). Hal ini disunnahkan bagi seorang muslim.
*Kedelapan,*
Yesus mengikuti syariat (syariatnya tauhid sama seperti nabi-nabi sebelumnya pen.) dan mengimani semua nabi. Lihat Matther 5:17. Muslim juga diajarkan demikian oleh Alquran. Lihatlah surat 3 (Ali Imran) ayat 84 dan 2 (Al-Baqarah) 285.
*Kesembilan,*
Ibu Yesus, Maryam, mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya dan mengenakan hijab. Sebagaimana terdapat dalam 1 Timothy 2:9, Genesis 24: 64-65, dan Corinthians 11:6. Wanita muslimah juga mengenakan pakaian yang sama. Alquran mengajarkan mereka dalam surat 33 (Al-Ahzab) ayat 59.
*Kesepuluh,*
Yesus dan nabi-nabi lainnya yang disebutkan di dalam Injil berpuasa hingga lebih dari 40 hari. Lihat Exodus 34:28, Daniel 10:2-6. 1Kings 19:8 dan Matthew 4:1. Muslim pun berpuasa selama bulan Ramadhan. Seorang muslim diwajibkan berpuasa sebulan penuh, 30 hari. Lihat Alquran surat 2 (Al-Baqarah) ayat 183. Kemudian dianjurkan untuk melanjutkan berpuasa 6 hari untuk menambah ganjaran pahala.
*Kesebelas,*
Yesus mengajarkan agar berucap “Kedamaian untuk rumah ini” ketika memasuki rumah. Lihat Luke 10:5. Dan juga memberi salam kepada orang-orang di dalam rumah dengan ucapan “Kedamaian untuk kalian”. Sekali lagi, muslim melakukan hal yang sama persis dengan apa yang dilakukan dan diajarkan Yesus. Ketika kita masuk ke rumah kita, atau rumah orang lain, kita mengucapkan “Bismillah” dan juga memberi salam “assalamualaikum”. Inilah tuntunan Alquran dalam surat 24 (An-Nur) ayat 61.
*Kedua belas,*
Yesus dikhitan (disunat). Khitan merupakan salah satu dari 5 sunnah fitrah dalam ajaran Islam. Dalam Islam, seorang laki-laki diwajibkan untuk berkhitan. Berdasarkan Injil Luke 2:21. Yesus berusia 8 hari saat ia dikhitan. Di dalam Taurat, Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim bahwa khitan adalah sebuah “perjanjian abadi”. Lihat Genesis 17:13. Di dalam Alquran, surat 16 (An-Nahl) ayat 123, seorang muslim diwajibkan untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Ibrahim berkhitan setelah berumur delapan puluh tahun” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
*Ketiga belas,*
Yesus berbicara dalam bahasa Aramaik dan menyebut Tuhan dengan Elah. Secara penyebutan atau pelafalan, sama dengan lafadz Allah. Aramaik adalah bahasa kuno. Ia merupakan bahasa Bible. Bahasa ini merupakan salah satu dari Bahasa Semit. Termasuk juga bahasa Hebrew (Ibrani), Arab, Ethiopia, dan bahasa-bahasa kuno lainnya seperti bahasa Assyria dan Babylonia yang merupakan Bahasa orang-orang Akkadia.
Bahasa Aramaik “Elah” dan bahasa Arab “Allah” adalah sama.
Kata Aramaik “Elah” berasal dari bahasa Arab “Allah”. Yang artinya adalah Tuhan. Allah dalam bahasa Arab artinya juga Tuhan. Tuhan Yang Mahatinggi. Anda bisa dengan mudah mendapatkan kesamaan pelafalannya. Dengan demikian, Tuhannya Yesus juga merupakan Tuhannya orang-orang Islam. Dialah Tuhan semua manusia. Dan Tuhan semua makhluk yang ada.
*Nah, sekarang katakan kepadaku, siapakah pengikut Yesus yang sebenarnya? Tentu saja jawabnya umat Islam.*
Sekarang saya yakin saya telah menjadi pengikut Yesus yang sebenarnya,” tutup Adebayor. 
sumber : eramuslim.com

Rabu, 11 Januari 2017

Subhanallah, Ikan-Ikan pun Melemparkan Butir Permata dari Lautan



Dzun Nun Al-Mishri pernah bercerita, “Pernah, saya menumpang suatu kapal dan di kapal itu ada sesuatu yang hilang. Seluruh pandangan mengarah kepada seorang lelaki. Saya pun berkata kepada lelaki itu,
‘Kelihatannya orang-orang mencurigai Anda.’
‘Mengapa saya? Mengapa begitu?’ tanyanya.

Saya menjawab, ‘Mereka kehilangan sebutir permata dan mereka menyangka Andalah yang mengambilnya.’
Orang tersebut kemudian menengadahkan wajahnya ke langit seraya berdoa, ‘Aku bersumpah kepada-Mu, Ya Allah, untuk mengeluarkan ikan-ikan di laut membawa permata dan mutiaranya.’

Mendadak muncul ikan-ikan dari beberapa arah ke kapal kami dan melemparkan butir-butir permata serta mutiara ke dalam kapal.”
“Berapa banyak orang yang kusut masai rambutnya, berdebu wajahnya, memakai dua kain yang lusuh serta tidak dihiraukan manusia, namun jika ia telah bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya.”

sumber : kiblat.net

Senin, 09 Januari 2017

Penguasa Daratan Asia Ini Wafat Miskin di Pengungsian

penguasa-daratan-asia-wafat-miskin-di-pengungsian

Dalam sebuah percakapan antara kehidupan dan kematian, kehidupan bertanya pada kematian, “Mengapa orang-orang mencintaiku dan membencimu”? Kematian menjawab, “Karena engkau cantik, walaupun menipu. Sedang aku menyakitkan, walaupun nyata.”

Kira-kira demikian sebuah fabel antara kehidupan dan kematian.
Banyak orang ngoyo mengejar target hidup. Sampai ia lupa kalau kematian jadi pemutus yang membuatnya tak sempat menikmati semua yang ia kumpulkan. Bahkan, terkadang nikmat hidup itu berakhir lebih dulu sebelum datangnya mati. Seperti yang dialami Muhammad Khawarizm Syah II (Alauddin Muhammad), Raja Daulah Khawarizm. Ia menguasai sebagian besar benua Asia. Kekuasaannya membentang dari Irak di sebelah barat hingga India di sebelah timur. Dari Laut Caspia di sebelah utara hingga Laut Aral dan Teluk Arab di sebelah selatan. Seluruh wilayah Seljuk ia kuasai. Namun ia wafat dalam keadaan terusir, miskin, mengungsi. Ia wafat di pulau terpencil di Laut Caspia.
Keturunan Budak Menjadi Raja
Muhammad Khawarizm Syah memerintah Khawarizm antara tahun 1200-1220 M. Kakeknya adalah seorang budak berasal dari Turki. Kemudian sang kakek menjadi penguasa wilayah kecil yang disebut Khawarizm. Sebuah wilayah delta Sungai Jeyhun (Sungai Amu darya) di Asia Tengah.
Saat Muhammad memegang tampuk kuasa, mulailah wilayah kerajaan ini meluas. Tahun 1205, ia berhasil menguasai berbagai wilayah di Persia dan wilayah-wilayah Saljuk. Sampai kekuasaannya menyentuh Teluk Arab, ia pun memproklamirkan diri sebagai seorang Syah (Kaisar). Selanjutnya, Muhammad meneruskan ekspansinya ke Asia Tengah. Ia berhasil mengusai Kota Herat, Balkh, Tokharistan, Sistan, dll.
Ibnul Atsir mengatakan, “Selama masa pemerintahannya kurang lebih 21 tahun, Muhammad berhasil memperluas wilayahnya dan memperkuat kedudukannya. Dunia tunduk padanya. Kerajaannya terbentang dari wilayah Irak hingga Turkistan, kerajaan Ghaznah di Afganistan dan sebagian India, Sijistan, Karman (Pakistan sekarang), Tibristan, Gorgan, negeri-negeri di pegunungan Khurasan, dan sebagian wilayah Persia (keseluruhan wilayah Iran sekarang).” (Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, 10/407).
Nukilan dari Ibnul Atsir ini menjelaskan betapa besar wilayah kekuasaannya. Dan bagusnya menajemen pemerintahannya. Karena itu, Ibnul Atsir memujinya, “Ia adalah seorang yang sabar dalam menghadapi keletihan dan menyukai tantangan. Ia bukan tipe orang yang suka berfoya-foya. Ia tak suka hidup dalam kenikmatan. Perhatiannya hanya pada kekuasaannya, menatanya, menjaganya, dan menjaga rakyatnya.” (Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, 10/407).
Ketika berbicara tentang pribadi Muhammad Khawarizm Syah, Ibnul Atsir mengatakan, “Ia adalah seorang yang utama dan berilmu. Memuliakan ulama. Cinta pada mereka dan memperlakukan mereka dengan baik. Ia sering duduk bersama ulama, berdiskusi bersama mereka. Ia seorang yang menghormati ahli agama, menerima mereka, dan dekat dengan mereka.” (Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, 10/407).
Lari Dari Kematian
Di bawah pimpinan Jenghis Khan, Tatar memasuki dunia Islam. Mereka berhasil menguasai salah satu wilayah Khawarizm, Samarkand. Porak-porandakanlah kota peradaban Islam itu. Tidak puas sampai di situ, mereka menargetkan menguasai Khawarizm. Agar perjalanan merebut kekuasaan lebih mudah dan tidak terjadi perlawanan dimana-mana, mereka jadikan Muhammad Khawarizm Syah sebagai buronan nomor satu. Jenghis Khan kerahkan 20.000 pasukan untuk mencari orang nomor satu di Khawarizm itu.
Pasukan Tatar mencarinya di ibu kota negara, Kota Urgench. Sebuah kota yang terletak di pinggir barat Sungai Jeyhun (Sungai Amu Darya). Pasukan-pasukan itu datang dari arah timur. Sungai menjadi pengulur waktu bagi kaum muslimin untuk melarikan diri dari kekejaman anak buah Jenghis Khan ini.
Karena tak berdaya dan terus mengalami kekalahan, Muhammad Khawarizm melanjutkan pelarian diri menuju Naisabur. Pasukan Tatar terus menembus kota-kota Khawarizm hingga mereka pun sampai di tempat kelahiran Imam Muslim itu.
Saat orang-orang Mongol telah dekat dengan Naisabur, Muhammad Khawarizm tak lagi berdaya mengumpulkan pasukannya. Ia terus berlari. Kota persinggahan berikutnya adalah Mazandaran. Tatar terus memburunya. Khawarizm mengungsi lagi ke Kota Ray. Kemudian Hamadan. Dan kembali lagi ke Mazandaran. Sampai akhirnya ia terpojok di Tibristan, di tepi Laut Caspia. Ia menaiki perahu dan Tatar kehilangan jejaknya.
Muhammad Khawarizm Syah akhirnya tiba di sebuah pula kecil di tengah Laut Caspia. Ia tinggal hanya beberapa hari di sana hingga akhir hayatnya. Ia wafat dalam keadaan terusir dan miskin. Sampai-sampai tidak ada kain untuk mengkafaninya. Kafannya hanyalah alas tidurnya.

Muhammad Khawarizm Syah II yang wafat dalam keadaan tak memiliki kain kafan.
Muhammad Khawarizm Syah II yang wafat dalam keadaan tak memiliki kain kafan.

Pelajaran:
Pertama: Begitu cepat keadaan seseorang berubah. Hari ini miskin esok menjadi kaya raya. Hari ini anak budak, esok menjadi raja. Oleh karena itu, jangan sekali-kali kita mencela seseorang karena takdir yang dia dapatkan. Bisa jadi esok hari ia lebih baik dari kita dan kita lebih buruk darinya.
Kedua: Raja dunia pun tak sempat menikmati dunia. Belajarlah Anda dari pengalaman ini.
Ketiga: Dunia bukan tempat yang abadi dan kenikmatannya pun fana. Orang yang kuat, berkuasa, dan disegani semua pergi meninggalkannya.
Keempat: Seseorang bisa lari dari musuh yang ditakutinya, musuh yang mengancam nyawanya, tapi tak ada seorang pun yang bisa lari dari kematian.
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 78).
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Ketika Inggris Mengidolakan Dunia Islam



Tanpa orang-orang Islam, mungkin tak akan ada gula dan Shakespeare di Inggris. Jerry Brotton dalam The Sultan and the Queen melacak pengaruh Islam terhadap budaya Inggris selama setengah millennium (500 tahun), antara masa Perang Salib hingga kebangkitan Kerajaan Inggris di Timur Tengah.

Kisah hubungan dekat Inggris dan dunia Islam itu dilacak dari kisah Ratu Elizabeth I yang memiliki gigi yang buruk. Gigi Sang Ratu tak rata dan berlubang (busuk), karena kebiasaannya mengonsumsi banyak gula. Sebuah komoditi yang baru yang diimpor oleh Inggris dari Maroko pada abad ke-16. Permen adalah salah satu makanan tervaforit Ratu Elizabeth I.
Kisah tentang senyuman tak menarik Elizabeth I adalah sejarah yang menarik. Bahkan lebih menarik dan penting dari sejarah ekonomi, budaya, dan relasi politik antara sang Ratu dengan wilayah-wilayah kecil. Sultan Maroko dan saudagar-saudagar kaya raya dunia Islam menguasai lebih dari setengah wilayah Mediterania dan mengontrol akses orang-orang Eropa menuju dunia Timur. Buku Jerry Brotton –The Sultan and the Queen-, menunjukkan kajian hubungan intens antara orang-orang Protestan Inggris dengan umat Islam. Ia menunjukkan bagaimana umat Islam, selama 500 tahun –antara masa Perang Salib hingga kebangkitan Inggris di Timur Tengah-, bisa bukan hanya mempengaruhi, tapi membentuk budaya masyarakat Inggris.
Relasi yang berdampak positif –bagi budaya Inggris- antara Protestan dan Islam ini bermula dari kebijakan Paus terhadap wilayah Britania. Paus Pius V mengucilkan Elizabeth pada tahun 1570. Pimpinan tertinggi gereja Katolik itu menyerukan hampir semua wilayah Eropa memboikot Elizabeth. Barang-barang komoditi dagang Inggris ditolak di Spanyol, Italia, dan Prancis. Kenyataan ini membuat Elizabeth mencari relasi dagang lainnya.
Pertama, ia mencoba menjalin hubungan ekonomi dengan Rusia. Awalnya, hubungan ini berjalan lancar. Namun, Laut Putih (White Sea) membeku dalam kurun waktu bertahun-tahun, sehingga jalur dagang laut tertutup dan harus menempuh jalur darat yang jaraknya lebih jauh. Elizabeth pun mengalihkan pandangannya menuju Maroko, kemudian Iran, dan akhirnya menjalin hubungan dagang dengan kerajaan Islam terbesar di dunia kala itu, Turki Utsmani.
Ratu mulai mengirimkan pedagang dan diplomatnya menuju Marrakesh –ibu kota dagang Maroko- untuk mengimpor gula dan mineral. Kemudian ke Istanbul untuk membeli katun dan pewarna. Dan menuju Aleppo, mengangkut sutra Iran dan rempah-rempah India. Brotton mengisahkan bahwa perjalanan orang-orang Inggris ke daerah-daerah tersebut tidak selalu aman. Karena mereka membawaa komoditi dagang, barang bernilai, rempah-rempah, dan uang. Di antara kota yang terkenal rawan pada saat itu adalah kota yang menjadi pusat kekayaan pada abad 16, Raqqa dan Fallujah.
Hubungan dagang dengan dunia Timur membawa Inggris menemukan cara baru dalam transaksi jual beli, yaitu perusahaan kongsi. Menurut Elizabet, membawa uang dan memindahkan barang dagangan dengan jarak yang jauh adalah sebuah resiko yang besar. Belum lagi adanya perbedaan keyakinan. Tentu keamanan semakin tak terjamin. Kongsi dagang ini dapat meminimalisir resiko dengan tetap mendapatkan untung. Meskipun dibagi. Walaupun kemitraan dagang antara Timur dan Barat naik pesat di masa Elizabeth I, Inggris tetaplah mitra dagang junior. Besi, sutra, rhubarb (sejenis tanaman), kismis, rempah-rempah, anggur manis, dan gula membanjiri pasar Inggris. Rasa dan selera makan masyarakat Inggris pun berubah. Mode baru tercipta. Dan pertukaran uang kian menggeliat.
Seperti yang dikatakan Brotton, hampir selalu ada kecemasan dalam setiap aktivitas ekonomi Inggris karena konflik Kristen Eropa dengan dunia Timur. Baik Katolik atau Protestan –terutama Protestan- pada abad ke-16 memang memiliki hubungan politik dan ekonomi dengan masyarakat Islam, akan tetapi mereka tak memiliki jaminan keagamaan dari pihak Gereja untuk terus memperdalam hubungan dengan Islam.
Sejak dulu, Martin Luther menganggap Paus adalah momok yang lebih menakutkan dibanding sultan-sultan Utsmani. Menurutnya, Turki Utsmani boleh jadi disebut iblis, tapi Paus adalah seorang anti Kristen. Kemudian seiring perkembangan Protestan, pada awalnya di Jerman kemudian menjadi agama di wilayah kekuasaan Elizabeth, Protestan menemukan perspektif baru tentang Islam. Turki Utsmani dianggap sebagai ujian dari Tuhan. Sebuah ujian keimanan. Dalam arti, pintu dunia terbuka lebar setelah Inggris menjalin hubungan dengan Utsmani. Jika mereka tidak menjadi tamak gara-gara terbukanya dunia untuk mereka, maka ujian itu berhasil menempa jiwa mereka menjadi jiwa yang suci. Akhirnya, kata Turk diartikan sebagai ketamakan, keserakahan, iri hati, dan keduniawian. Yaitu bentuk-bentuk ujian yang harus dijalani seorang Protestan dengan sukses.
Karena begitu kagumnya Inggris dengan dunia Islam, sampai-sampai Turki pun diistilahkan dengan godaan dunia. Karena dunia itu menimbulkan kekaguman.
Namun dalam pandangan Martin Luther, Paus dapat membunuh jiwa Kristen yang kekal sedangkan Turki Utsmani hanya dapat menghancurkan fisik semata. Sehingga, orang-orang Protestan lebih mudah dan terbuka dalam menjalin hubungan ekonomi dengan masyarakat muslim daripada dengan orang-orang Katolik. Ditambah, Islam dan Protestan memiliki kesamaan dalam hal tidak memiliki sistem kepausan. Yakni sama-sama tidak memiliki tokoh agama yang dianggap sebagai wakil Tuhan di duina.
Bagi orang-orang Katolik, tulisan Martin Luther tentang Turki dan Katolik, tentang perkembangan kepentingan dagang antara Inggris dan umat Islam, dan tentang hubungan Protestan dengan super power Turki Utsmani membuktikan bahayanya seorang Elizabeth.
Dan benar saja, sangkaan Katolik ini tidak keliru. Elizabeth menginginkan hubungan dengan Turki Utsmani bukan sekadar transfer permen saja. Ia menginginkan kapal laut dan senjata untuk membantunya memerangi kekuatan Katolik. Dengan itulah, pada tahun 1588 Elizabeth berhasil menghancurkan armada Spanyol. Ia sangat mendambakan terwujudnya kerja sama militer dengan Turki Utsmani dalam menghancurkan Spanyol. Inggris sebenarnya memiliki angkatan laut yang kuat, tapi tidak cukup kuat untuk menghadapi Spanyol dan Eropa Barat.
Harapan Elizabeth untuk menggandeng militer Utsmani dalam menghadapi Spanyol pun kandas. Kegagalan lobi kerja sama itu di antaranya disebabkan duta-duta dan utusan-utusan yang dikirim Elizabeth ke Istanbul pada tahun 1580-an dan 1590-an pergi meninggalkan majelis para Sultan tanpa buah tangan. Kemudian dalam perspektif Turki Utsmani, mereka merasa tidak layak menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengurusi konflik kecil di Eropa Barat itu. Ditambah lagi mereka sedang serius menghadapi Kerajaan Syiah Shafawi di Iran dan konflik di wilayah perbatasan mereka di Hungaria.
Pengaruh Islam di Inggris pada masa ini sangat luar biasa. Di masa sekarang ini, gambarannya seperti pengaruh budaya Amerika terhadap Indonesia. Di masa itu, dunia Islam mempengaruhi pola konsumsi, membanjiri pasar-pasar Inggris dengan produk-produk negara Islam, produk militer (alutsista) kaum muslimin dipakai Inggris. Selain itu, masyarakat Islam juga menginspirasi Inggris dalam dunia literasi. Mereka membaca buku-buku karya umat Islam. Penulis-penulis Inggris seperti Christopher Marlowe, George Peele, Robert Greene dan tentu saja, William Shakespeare mendapat asupan ide, karakter, dan cerita yang lebih luas terinspirasi dari tulisan-tulisan umat Islam. Puncak kekaguman Inggris dengan dunia lliterasi Islam adalah munculnya karya Shakespeare yang berjudul Othello.
Pada saat Elizabeth wafat, terjadilah perubahan. Kekaguman Inggris terhadap dunia Islam pun mulai dipaksa dihapuskan. James I naik tahta. Ia menjalin hubungan dengan Spanyol dan membawa Protestan Inggris lebih berwarna Katolik Eropa. Hubungan Inggris dan dunia Islam merenggang. Jasa-jasa umat Islam dalam membangun peradaban Inggris pun berusaha dilupakan.
Dan sekarang, keadaan pun berbalik. Dunia Islam dan kaum muslimin mengidolakan Inggris. Sungguh benar firman Allah ﷻ,
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS:Ali Imran | Ayat: 140)
Sumber:
- kisahmuslim.com
– Mr. Mikhail, a professor of history at Yale, is the author of the forthcoming “Under Osman’s Tree.”
(http://www.wsj.com/articles/when-england-admired-islam-1478281668)

Minggu, 08 Januari 2017

Afra binti Ubaid, Ibu dari 7 Anak Yang Menjadi Syuhada

Sejumlah jamaah berziarah ke pemakaman Syuhada Uhud, sekitar lima kilo meter sebelah Utara kota Madinah, Ahad (13/8). (Republika/Amin Madani)

Setidaknya ada dua sahabiyah Nabi Muhammad SAW yang memiliki nama Afra. Mereka adalah Afra binti Assakan dan Afra binti Ubaid.
Namun, nama yang disebutkan terakhir dianggap lebih terkenal dan memiliki kemuliaan yang jarang dimiliki oleh perempuan lain. Nama lengkapnya adalah Afra bintu Ubaid Tsa'labah An-Nahhariyah Al-Anshariyah. Kemuliaan yang dia miliki adalah ketujuh anaknya gugur membela agama Islam dan meninggal dunia sebagai syuhada.

Tujuh anak ini didapatkan Afra dari tiga kali pernikahan, tetapi dari dua laki-laki yang berbeda. Pertama, Afra menikah dengan Al Harits bin Rifa'aj, dan mereka dikarunai tiga orang anak, yaitu Mu'adz, Mu'awwidz, dan Auf. Mereka dikenal sebagai bani Harits dan termasuk ke dalam kaum Anshar. Namun, Al Harits kemudian menceraikan Afra.

Setelah itu, Afra menyambangi  Makkah dan menikahi Al Bukair bin Abdya Al-Laitsy. Dari pernikahan kedua ini, Afra mendapatkan empat anak. Mereka adalah Aqil, Khalid, Iyas, dan Amir. Empat anak Afra ini termasuk orang yang terdahulu menerima risalah dari Nabi Muhammad SAW. Mereka kerap menghadiri dakwah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh Rasulullah SAW di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Sebelum datang perintah hijrah, Afra dan Bukair bercerai. Afra akhirnya memutuskan kembali ke Madinah dan hidup di sana. Salah satu putra Afra, Auf bin Afra, merupakan salah satu peserta Baiatul Aqabah pada tahun ke-11 kenabian Rasulullah SAW.
Pada saat itu, Rasulullah SAW bertemu dengan enam orang pemuda Yastrib, nama Madinah sebelum hijrah Rasulullah SAW, di Aqabah. Mereka pun berbaiat dan masuk ke agama Islam. Salah satu dari enam pemuda Yatsrib itu adalah Auf bin Afra.

Dalam mendidik anak-anaknya, Afra memang menanamkan sikap untuk setia dan rela berkorban walaupun harus mengorbankan nyawa demi agama. Afra juga senantiasa mendorong putranya untuk terjun dan terlibat dalam setiap peperangan yang dijalani kaum Muslimin. Tujuh anak Afra bahkan, disebutkan terjun dan menjadi saksi dalam Perang Badar.

Namun, empat putra Afra tersebut mati syahid di medan pertempuran Perang Badar. Mereka adalah Aqil, Auf, Ma'udz, dan Mu'awwidz. Selain itu, putra-putra Afra yang lain juga meninggal dunia saat membela agama Allah. Khalid bin Bakir meninggal di tragedi Yaumurraji' di Najd, yaitu saat 10 sahabat Rasullah SAW wafat di Sumur Raji. Pada saat itu, suku Hudail, suku Adzl, dan suku Qarah berpura-pura meminta Rasulullah SAW untuk mengirim sahabat-sahabat guna mengajari mereka agama Islam. Sesampainya di Sumur Ar Raji', mereka malah diserang oleh Suku Hudail.

Sementara, Amer gugur dalam peristiwa Bi'ir Ma'unah, peristiwa pengkhianatan sejumlah suku kepada Rasulullah SAW. Peristiwa itu pun hampir sama dengan yang terjadi di Sumur Ar Raji'. Pengkhianatan suku-suku ini tidak terlepas dari kekalahan kaum Muslimin di Perang Uhud. Sedangkan, anak Afra yang lain, Iyas gugur dalam peristiwa Yamamah, peperangan kaum Muslimin dengan para pengikut nabi palsu, Musailamah Al Kadzzab, pada masa khalifah Abu Bakar Ash Shidiq.

Kisah kepahlawan putra-putra Afra ini pun sempat diriwayatkan dalam hadis sahih Bukhari (nomor: 3141) dan Muslim (nomor: 4668). Seperti diriwayatkan Abdurrahman bin Auf, ''Sesungguhnya aku berdiri dalam barisan perang (para Perang Badar), kulihat di sisi kanan dan kiriku ada orang yang lebih kuat dari mereka (pasukan kaum Kafir). Ketika itu, salah seorang dari mereka bertanya, 'Paman, tolong tunjuki aku Abu Jahal?' Pada saat itu, aku menjawab, 'Ya, aku mengenalnya, apa urusan kalian dengannya?'
Ia berkata, 'Aku mendengar, ia selalu mencari Rasulullah SAW. Demi Allah yang nyawaku berada di tanga-Nya, jika aku melihatnya aku tidak akan membiarkannya lepas dariku, ia yang mati dahulu atau aku.'' Aku pun kaget dengan jawaban anak muda itu. Kemudian, anak kedua juga bertanya hal yang sama kepadaku.''

Ternyata dua pemuda yang bertanya kepada Abdurrahman bin Auf itu adalah putra Afra, Muadz bin Afra. Selain itu, dalam riwayat lain, saudara Muadz, Muawwidz bin Afra, juga ikut melukai Abu Jahal. Kedua anak Afra ini pun turut andil dalam terbunuhnya Abu Jahal dalam Perang Badar. Pada saat kabar ini disampaikan kepada Rasulullah SAW, beliau bertanya siapa yang telah membunuh Abu Jahal, kedua anak Afra ini pun mengaku sudah membunuh Abu Jahal. Kemudian, Rasulullah SAW mengutus Ibnu Mas'ud untuk memastikan kematian Abu Jahal.

Begitu kabar kematian Abu Jahal telah dipastikan, Rasulullah SAW pun bersabda, ''Semoga Allah menyayangi kedua anak Afra. Keduanya adalah anggota gabungan pembunuh Firaun di tengah umat ini dan pemimpin kekafiran.'' Kemudian, sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ''siapa yang bergabung dalam pembunuhan tersebut?'' Rasulullah SAW menjawab, ''para Malaikat dan Ibnu Mas'ud telah bergabung dalam pembunuhannya itu.'' Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menyebut Abu Jahal sebagai Firaun di umat Islam saat itu dan pemimpin kekafiran.

Tidak seperti budaya di bangsa Arab pada umumnya, yang biasanya menasabkan nama anak laki-laki ke ayah mereka, tapi anak-anak Afra yang lahir di Madinah dinisbahkan namanya kepada ibunya, yaitu Afra, dan menjadi Muadz bin Afra, Muawwidz bin Afra, dan Auf bin Afra. Ini merupakan sebagai bentuk penghormatan terhadap Afra bin Ubaid.

Selain itu, Afra juga disebut memiliki kemuliaan di sisi Ummul Mukminin, Saudah binti Zam'ah. At-Thabrani menyebut, Ummul Mukminin membantu keluarga Afra dalam meringankan beban kesedihan setelah kematian Auf dan Muawwidz. Keimanan memang telah membawa Afra dan anak-anaknya untuk terus setia membela agama Allah. Tidak hanya itu, Afra juga memberikan contoh dan teladan keikhlasan seorang muslimah untuk berkorban demi tegaknya agama Islam.
sumber : republika

Inilah Golongan Pertama yang Memeluk Islam di Madinah

Syair ilustrasi

Ka'ab bin Malik, merupakan sosok penyair yang berasal dari Bani Sawad.  Dalam kitab Shuwar min Siyar ash-Shahabiyyat (2015) karya Abdul Hamid as-Suhaibani disebutkan kisah masuk Islamnya Ka'ab. 

Dia termasuk yang paling awal memeluk risalah Rasulullah SAW ini. Pada saat itu, baru sekitar 40 orang Muslim di Yastrib. Nabi Muhammad SAW pun belum berhijrah ke kota tersebut dari Makkah. 

Bersama kalangan Muslim perintis ini, Ka'ab bin Malik mendirikan shalat Jumat pertama di Yastrib, tepatnya di Hazam an-Nabit dari bukit Bani Bayadhah. 
Saat peristiwa Baiat Aqabah Kedua, Ka'ab bin Malik berangkat ke Makkah bersama dengan 74 penduduk Madinah. Sesampainya di sana, mereka pun bertemu dengan Nabi SAW dan mengucapkan janji setia kepada Rasul. 

Sesudah hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah, kelompok kafir Quraisy masih mengganggu keamanan. Puncaknya, Perang Badar pun terjadi dan Allah memberikan kemenangan atas kaum Muslimin. 

Ka'ab bin Malik tidak sempat mengikuti peperangan ini, sebagaimana dengan sejumlah sahabat Nabi SAW lainnya. Penyebabnya bukanlah kesengajaan, melainkan  mereka tidak menyangka bakal pecahnya pertempuran. Awalnya, mereka mengira kaum Muslimin hanya akan mencegat kafilah dagang kaum kafir Quraisy. 

Ka'ab berkata, Aku tidak ikut dalam Perang Badar, dan Rasulullah tidak menyalahkan siapa pun yang tidak ikut, karena pada dasarnya Rasulullah berangkat untuk mencegat kafilah dagang Quraisy. Namun, akhirnya Allah mempertemukan kaum Muslimin dengan musuh mereka.

Ka'ab hidup hingga zaman Muawiyah bin Abu Sufyan berkuasa. Ia wafat pada 50 Hijiriyah dalam usia 77 tahun
.

sumber : republika

Jumat, 06 Januari 2017

Kisah Kiai Dusta yang Bisa menyembuhkan


Di Gunung Sari nama Kiai Hasyim Adnan tersohor sebagai ulama muda yang mempunyai karamah. Ia sering dimintai tolong untuk mendoakan orang sakit atau kesusahan. Banyak juga yang minta air kalau ada seorang wanita keluarga mereka sulit melahirkan. Dan biasanya, entah dengan bacaan apa saja, begitu diberi minum air yang diberikan Kiai Hasyim Adnan, tidak berapa lama kemudian bayi pun akan keluar dengan mudah.
Suatu ketika Kiai Hasyim Adnan bepergian ke luar kota bersama keluarganya. Saya yang menunggui rumahnya, sendirian. Tengah malam ada tetangga sebelah rumah yang mengetuk pintu. Dengan wajah cemas Mbak Puji, demikian namanya, minta tolong kepada saya supaya dimintakan air kepada Kiai Hasyim Adnan untuk anaknya yang sedang step atau kejang-kejang. Saya jawab, "Kiai tidak ada di rumah, Mbak." Mbak Puji kebingungan. Mau cari dokter, hari Sudah kelewat malam. Jadi, kepada siapa lagi dia akan minta bantuan ? "Kalau begitu. Ustaz Abdurrahman saja, ya. Kan sama, yang penting doanya," desak Mbak Puji. "Soalnya, saya sendiri dan keluarga saya tidak ada yang bisa baca doa." Saya memang tahu, keluarga Mbak Puji hanya Islam abangan.
Sama dengan saya, yang rajin sembahyang sesudah menjadi ipar Kiai Hasyim Adnan. Tadinya saya juga Islam wala-wala, wala sembahyang wala puasa. Jadi, bagaimana saya bisa membacakan doa untuk kesembuhan orang lain? Sedangkan doa untuk diri sendiri saja belum tentu diterima. Maklum, maksiat saya masih berjibun. Agak untung saya sekarang dipanggil ustaz. Gara-gara jadi menantu Kiai. Padahal saya baru hafal satu-dua ayat, itu pun masih salah-salah, belum lancar betul. Memang, saya pernah mengecap pendidikan pesantren, tetapi saya termasuk santri yang paling badung.
Lebih banyak nonton bioskop daripada ngaji. Dan di Buntet, lebih banyak belajar silat daripada baca kitab. Cuma saya mau menjawab apa? Akan bilang saya tidak bisa baca doa, kayaknya tidak pantas. Masak sudah dipanggil ustaz tidak becus baca doa? Lagipula akan menjatuhkan pamor istri saya yang terkenal sebagai singa betina di mimbar-mimbar agama. Bahkan waktu itu, ia pun sedang berada di Kalimantan untuk memberikan ceramah di sana selama seminggu
Pikir punya pikir, akhirnya saya temukan akal bagus. Dengan dekdekan saya berkata, "Coba ya, Mbak Puji. Akan saya lihat-lihat di kamar Kiai, barangkali ada air yang tertinggal." Mbak Puji kelihatan gembira sekali. Wajahnya berubah terang, penuh harapan. ayalah yanq justru makin berdebar-debar sebab yang saya rencanakan adalah sebuah kebohongan. Tapi, ah, saya akan memohon betul kepada Tuhan, dan akan berjanji. bila rencana itu dapat memberi manfaat bagi anak Mbak Puji yang sedang sakit, saya akan bertobat dengan sungguh-sungguh.
Saya pun masuk ke dalam. Saya isikan air masak ke dalam sebuah botol lalu saya bacakan Fatihah, satu-satunya surah yang saya hafal dengan lancar selain beberapa surah pendek lainnya. Saya baca terus-menerus, tanpa saya hitung jumlahnya. seraya berdoa. "Ya Allah, selamatkanlah anak Mbak Puji, bukan untuk menaikkan namaku di depannya, melainkan untuk mengagungkan asma-Mu. Mudah-mudahan jika kauperkenankan doaku ini, Mbak Puji dan segenap keluarganya akan menjadi Muslim yang baik dan selalu mengabdi ke hadirat-Mu..'
Setelah saya merasa bahwa doa saya sudah cukup mantap dan telah saya lakukan dengan sungguh-sungguh. barulah saya keluar dan saya serahkan botol berisi air masak itu kepadanya. Saya pun berkata, "Al-hamdulillah, ternyata masih tersisa air yang sudah diberi doa Kiai Hasyim Adnan satu botol ini. Cobalah minumkan kepada anak Mbak Puji, semoga Allah menyembuhkannya." Langsung saja botol itu diterima dengan gembira oleh Mbak Puji. Mungkin saking gembiranya, sampai ia lupa mengucapkan terima kasih kepada saya. Akibatnya, saya juga lupa memesankan sesuatu kepadanya. Maksud saya, akan saya pesan wanti-wanti agar Mbak Puji tidak usah menyampaikan terima kasih kepada Kiai Hasyim Adnan andaikata anaknya betul-betul sembuh. Jadinya saya akan mengatakan begini: "Mbak, Kiai Hasyim Adnan tidak suka dipuji karena yang menyem:. buhkan hanyalah Allah. Jadi nanti, kalau Kiai pulang, tidak usah bilang apa-apa kepadanya."
Rencana yang sudah saya susun itu gagal total karena saya tidak ingat lagi gara-gara jantung saya hampir copot memikirkan kebohongan saya itu. Tiga hari kemudian, ketika Kiai Hasyim sudah pulang, dan ketika saya sedang duduk-duduk dengannya di teras rumah, Mbak Pujrmuncul sambil membawa talam berisi makanan. Mukanya cerah,malahan kelihatan lebih manis karena saat itu memakai kerudung. Sebelumnya tidak pernah
Setelah memberi salam, Mbah puji betkata, "Saya mengucapkan terima kasih kepada Kiai karena......." Cepat-cepat saya potong, "Bagaimana anak Mbak Puji, sudah sembuh?" Mbak Puji menjawab, "Itulah sebabnya saya kemari. Anak saya udah sehat sekarang. Ya, ltulah berkat." air. ...
Segera saya potong lagi, "Oh, berkat air zamzam yang dibawa pulang oleh Haji Karim dari Mekah ?" "Bukan, air yang sudah diberi doa oleh Kiai," ujar Mbak Puji seraya kepalanya menunduk-nunduk kepada Kiai Hasyim Adnan. Saya lihat abang ipar saya itu melirik ke arah saya dengan tatapan mata yang aneh. Untung ia cukup bijaksana untuk mau mengerti perbuatan saya yang pas ti sudah bisa ditebaknya. Bahkan sesudah Mbak Puji pergi, ia berkata kepada saya, "Pertolongan Tuhan itu akan datang bergantung pada bagaimana niat kita." Alhamdulillah, sejak saat itu memang betul Mbak Puji dan seluruh sanak familinya menjadi jamaah pengajian yang rajin dan taat. Berkat kebohongan yang menyembuhkan.
sumber : abatasa.com

Kamis, 05 Januari 2017

Subhanallah Inilah Cara Rasulullah Menghormati Sahabatnya

Cara Rasulullah Hormati Sahabatnya
Semakin tinggi derajat seseorang, semakin pula ia dihormati. Tapi Rasulullah punya nilai lebih. Sebagai manusia yang maksum dan pembawa risalah suci, sudah sepantasnya Baginda Nabi Muhamad shallallâhu ‘alaihi wasallam mendapat kemuliaan yang tinggi dari sahabat-sahabatnya. Namun nyatanya, justru Rasulullah-lah yang terdepan meneladankan sikap itu kepada mereka. Beliau yang enggan dihormati tampil sebagai sosok sangat menghormati orang lain.

Tentang hal ini ada sebuah kisah yang diriwayatkan Imam ath-Thabrani. Suatu kali Rasulullah menggelar sebuah pertemuan dengan para sahabatnya. Yang hadir cukup ramai, sehingga majelis itu terlihat sesak.

Di tengah padatnya peserta forum, Jarir bin Abdullah datang terlambat. Tentu ia tak mendapat jatah tempat duduk. Rasulullah yang mengetahui kondisi Jarir segera menggelar jubahnya lalu menyuruh Jabir duduk di atasnya.

Hati Jarir terenyuh menyaksikan akhlak luar biasa Rasulullah. Alih-laih mau duduk di atas pakaian Nabi, ia malah mengambil pakaian tersebut, mengangkatnya, lalu menciumnya sambil menangis tersedu-sedu. Batin Jarir, bisa-bisanya Rasulullah begitu menghormati dirinya di depan para sahabat yang lain padahal dia telat?

“Saya tak akan duduk di atas pakaianmu (ya Rasulullah). Semoga Allah memuliakanmu sebagaimana engkau memuliakan diriku,” kata Jarir yang haru campur kagum dengan sifat Rasulullah.

Rasulullah adalah sosok yang tak gandrung dengan penghormatan. Beliau lebih sering melayani ketimbang dilayani. Nabi menjahit pakaiannya sendiri yang bolong. Menyelesaikan keperluannya tanpa merepotkan orang lain. Pribadinya yang tawaduk juga enggan bila tangannya dicium, meski bukan berarti mengharamkannya. Demikianlah Rasulullah, puncak kemuliaannya tampil sempurna justru dalam kerendahatiannya.
sumber : nu.or.id

Sabtu, 31 Desember 2016

Subhanallah 5 Gubernur Ini Ternyata Seorang Hafiz Quran

Foto: sumbarprov.go.id

MENJADI seorang Gubernur tentu harus mahir dalam menjalankan roda politik pemerintahan. Tak hanya itu, seorang Gubernur juga harus mempunyai ilmu tentang agama yang mumpuni agar dapat melayani masyarakat dengan baik.

Lantas bagaimana jika ada Gubernur yang hafal Al-Quran, adakah korelasinya dengan kepemimpinan? Apakah pemimpin yang hafal Al-Quran itu bisa berprestasi?Menurut “The Millionaire Mind” karya Thomas Stanley, ada lima hal menjadikan seorang berprestasi, hingga menjadikannya sukses.Kelima faktor tersebut antara lain;1. Jujur kepada semua orang.2. Menerapkan disiplin3. Bergaul baik dengan orang lain4. Memiliki Suami atau isteri yang mendukung5. Bekerja Lebih Giat dari pada kebanyakan orang


Dari kelima faktor itu, sepertinya dimiliki oleh mereka yang hafal Al-Quran.Seorang penghafal Al-Quran mempunyai tanggung jawab untuk mengamalkan Al-Qur’an yang telah dihapalnya di luar kepala. Termasuk melayani masyarakat yang dipimpinnya, supaya lebih aman dan sejahtera.Berikut 5 Gubernur hafiz Al-Quran Indonesia yang dikutip dari berbagai media:


1. Gubernur Jawa Barat, Ahmad HeryawanGubernur yang biasa disapa Aher ini telah menjabat sebagai gubernur Jawa Barat selama dua periode, hingga tahun 2018. Sampai saat ini ia telah meraih lebih dari 132 penghargaan untuk provinsi yang dipimpinnya.

2. Gubernur Sumatera Barat, Prof. Irwan Prayitno
Irwan Prayitno menjabat gubernur Sumatera Barat untuk periode kedua, hingga tahun 2020. Selain sebagai Gubernur yang juga hafidz Al Qur’an, ayah dari 10 anak ini juga produktif menulis.

3. Gubernur NTB, M. Zainul MajdiMuhammad Zainul Majid yang biasa disapa Tuan Guru Bajang, menjabat gubernur Nusa Tenggara Barat untuk periode kedua. Pada tahun 2008 silam, ia mendapatkan penghargaan sebagai gubernur termuda (36 tahun) dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

4. Gubernur Maluku Utara, Abdul Ghani KasubaAbdul Ghani Kasuba menjabat gubernur Maluku Utara hingga tahun 2019. Sebelumnya, ia menjabat sebagai wakil gubernur periode 2008-2013. Ghani menduduki posisi orang nomor 1 di Maluku Utara, disokong oleh PKS dan sejumlah partai lain.

5. Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, ST.Gatot Pujo Nugroho, ST. beliau adalah Gubernur Sumatera Utara dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Prestasi yang telah diraih Gubernur Sumatera Utara, sesaat sebelum maju kembali telah menorehkan 99 penghargaan.

sumber : islampos

x

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog